Senin, 28 Mei 2018

laporan geologi pantai : sukri indi

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunianya. Sehingga kami dapat menulis dan menyelesaikan sebuah laporan Geologi pantai yang sangat sederhana ini dengan berjudul klasifikasi lahan pantai  laporan ini dibuat guna mmenuhi tugas mata kuliah Geologi Pantai  dan sebagai pembelajaran dalam menyusun sebuah laporan.
            Pada kesempatan ini kami  mengucapkan banyak terima kasih sebesar-besarnya kepada bapak dosen pengasuh mata kuliah Geologi Pantai yang telah memberikan dorongan kepada kami  sehingga kami  dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Akhirnya kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan untuk itu kami mengharapkan saran dan kritiknya yang bersifat membangun dari dosen pembimbing dan teman-teman agar penulisan laporan ini kedepannya lebih baik.   Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita . Sholawat serta salam pun kami haturkan kepada  junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW dan para sahabatnya, yang telah memberikan tauladan baik sehingga akal dan fikiran penyusun mampu manyelesaikan laporan  ini, semoga kita termasuk umatnya yang kelak mendapatkan syafa’at  dalam menuntut ilmu. Allahumah Amiin Yaa Rabb. .............amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................................  1
DAFTAR ISI ..........................................................................................................  2
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................  3
a.       Lata belakan................................................................................................. 3
b.      Rumusan masalah .......................................................................................  3
c.       Tujuan laporan ............................................................................................  3
BAB II TINJAUAN TEORI.................................................................................. 4
1.      Pryaratan lahan untuk klasifikasi pantai...................................................... 4
2.      Tipe pantai ..................................................................................................  8
BAB III. METODE PRATIKUM .........................................................................  21
1.      Bahan dan Alat Pratikum ...........................................................................  21
2.      Waktu dan Tempat Praktikum..................................................................... 21
3.      Tahapan pratikum .......................................................................................  21
BAB IV HASIL DAN  PEMABAHASAN ..........................................................  23
A.    Hasil ............................................................................................................  23
B.     Pembahasan  ................................................................................................  24
BAB III PENUTUP ...............................................................................................  27
a.       Kesimpulan .................................................................................................  27
b.      Saran ...........................................................................................................  27
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................  28
Dokumtasi ...............................................................................................................  29
BAB.I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar belakang
Geologi pantai meruppakan suatu pengkajian tentang bentuk lahan pantai , evolusinya proses-proses yang bekerja padanya, dan perubahan-perubahan yang terjadi pada say tertentu. Dari pengertian tersebut di ketahui secara jalas bahwa lingkup gelogi pantai itu adalah seluruh wilayah pantai. Objek pengkajinnya berupa bentuk lahan, gensis, proses, maupun di namika pantai. Intilah kepentingan yang telah di pandamkan itu adalah beac (griksik) coast (pesisi) dan shore (pantai) dari ketiga kata itu lingkup yang terluas adalah pesisir (coast) sebab pesisir mencakup wilayah daratan sejauh masih mendapat pengaruh laut (angin laut pasang surut dan perembasan air laut) serta wilayah laut sejauh masih mendapat pengaruh dari darat (aliran air tawar dan sedimen)
Garis pantai siliklasik termasuklah pesisir (beaches), pulau penggalian 

1.2.Masalah praktek
Ø Faktor apa saja yang mengakibatkan terjadinya abrasi pantai Kastela
Ø Seberapa besar perubahan garis pantai yang ada di kelurahan Kastela selama lima tahun terakhir dari tahun 2014 – 2018

1.3.Tujuan praktek
Mahasiswa mampu mengidentifikasi atau mengenali perubahan  garis pantai yang ada di tempat pratikum di kelurahan Kastela ternate bagian selatan






BAB.II
TINJAUAN PUSTAKA

1.        Persyaratan Lahan Untuk Klasifikasi Pantai
Dahuri  et  al.  (2004)  mendefinisikan  kawasan  pesisir  sebagai  suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan.   Apabila ditinjau dari garis pantai (coast line), maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas, yaitu : batas yang sejajar garis pantai (long shore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (crossshore).  Menurut Soegiarto (1976) dalam Dahuri et al. (2004) definisi wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat – sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses – proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan  dan pencemaran.
Ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mempunyai kekayaan habitat yang beragam, di darat maupun di laut, serta saling berinteraksi antara habitat tersebut.  Bengen (2001) menyatakan kawasan pesisir dari sudut ekologis sebagai lokasi dari beberapa ekosistem yang unik dan saling terkait, dinamis dan produktif.   Ekosistem pesisir mempunyai kemampuan terbatas terhadap masukan limbah.   Hal ini sangat tergantung pada volume dan jenis limbah yang masuk.  Apabila limbah tersebut melampaui kemampuan asimilasi perairan pesisir, maka kerusakan ekosistem dalam bentuk pencemaran akan terjadi.Dalam suatu kawasan pesisir terdapat satu atau lebih ekosistem dan sumberdaya pesisir. 
Ekosistem pesisir dapat bersifat alami ataupun buatan (manmade). Ekosistem alami yang terdapat di kawasan pesisir antara lain: terumbu karang (coral reef), hutan mangrove, padang lamun, pantai berpasir (sandy beach), formasi pes-caprae, formasi baringtonia, estuaria, laguna dan delta. Sementara itu, ekosistem buatan antara lain : tambak, sawah pasang surut, kawasan pariwisata, kawasan industri, agroindustri dan kawasan pemukiman (Dahuri et al., 2004). Sumberdaya di kawasan pesisir terdiri dari sumberdaya alam yang dapat pulih dan sumberdaya alam yang tidak dapat pulih. Sumberdaya yang dapat pulih antara lain meliputi sumberdaya perikanan (plankton, bentos, ikan, moluska, krustacea, mamalia laut); rumput laut; padang lamun; hutan mangrove; dan terumbu karang.   Sumberdaya yang tidak dapat pulih dapat berupa minyak dan gas, bijih besi, pasir, timah, bauksit dan mineral serta bahan tambang lainnya.   Pada kelompok sumberdaya yang dapat pulih, hidup dan berkembang berbagai macam biota laut, sehingga dengan keanekaragaman sumberdaya tersebut diperoleh potensi jasa – jasa lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan wisata (Dahuri et al., 2004).




Gambar  2-2 Zonasi wilayah pesisir dan lautan secara horisontal dan vertikal (Nyabakken, 1992
Menurut   Nybakken   (1992),   ekosistem   laut   dapat   dilihat   dari   segi horizontal dan vertikal. Secara horizontal kawasan pelagik terbagi menjadi dua yaitu laut pesisir (zona neritik) yang mencakup daerah paparan benua dan laut lepas (lautan atau zona oseanik).  Zonasi perairan laut dapat pula dilakukan atas dasar faktor – faktor fisik dan penyebaran komunitas biotanya.  Seluruh daerah perairan terbuka disebut kawasan pelagik dan kawasan bentik adalah kawasan dibawah kawasan pelagik atau dasar laut.  Organisme pelagik adalah organisme yang hidup di laut terbuka dan lepas dari dasar laut.   Zona dasar laut beserta organismenya disebut daerah dan organisme bentik.  Secara vertikal wilayah laut dibagi berdasarkan intensitas cahaya matahari yang masuk ke perairan.   Zona fotik adalah bagian kolom perairan laut yang masih mendapat cahaya matahari, disebut  juga zona epipelagis.    Zona afotik  berada  dibawah  zona  fotik,  yaitu daerah yang secara terus menerus berada dalam keadaan gelap dan tidak mendapatkan cahaya matahari. Zonasi wilayah pesisir dan lautan secara horisontal dan vertikal dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Kawasan Pantai
Bagian kawasan pesisir yang paling produktif adalah wilayah muka pesisir atau pantai.   Daerah pantai adalah suatu kawasan pesisir beserta perairannya dimana daerah tersebut masih terpengaruh baik oleh aktivitas darat maupun laut (Pratikto et al., 1997).   Garis pantai merupakan suatu garis batas pertemuan (kontak) antara daratan dengan air laut.  Posisinya bersifat tidak tetap, dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi. Pantai terletak antara garis surut terendah dan air pasang tertinggi (Bengen, 2001). Batas daerah pantai dapat dilihat pada Gambar 2-2 berikut ini.




Gambar  2-3. Batas daerah pantai (Pratikto et. al., 1997)
            Pratikto et al. (1997), menyatakan bahwa berdasar asal mula pembentukannya, pantai di Indonesia dikategorikan menjadi 4 kelompok yaitu  :
1.        Pantai tenggelam (sub-emergence) : terbentuk oleh genangan air laut pada daratan yang tenggelam
2.        Pantai  timbul  (emergence)  :  terbentuk  oleh  genangan  air  laut  pada daratan yang sebagian terangkat.
3.        Pantai  netral  :  pembentukannya  tidak  tergantung  pada  pengangkatan atau penurunan daratan, melainkan pengendapan aluvialnya.  Pantai ini dicirikan dengan pantai pada ujung delta yang dalam  dengan  bentuk pantai sederhana atau melengkung
4.        Pantai campuran (compound): terbentuk oleh proses pengangkatan dan penurunan daratan, yang diindikasikan oleh adanya daratan pantai (emergence) dan teluk – teluk (sub-emergence)
Karakteristik bentuk pantai berbeda – beda antara tempat yang satu dengan tempat lainnya.   Ada pantai yang berlumpur, berpasir yang datar dan landai, berbatu dan terjal.   Keadaan topografi dan geologi wilayah pesisir mempengaruhi perbedaan bentuk pantai.   Gambar   pantai (pantai berpasir, berbatu dan berlumpur) secara visual dapat dilihat gambar dibawah ini.
Beberapa parameter atau indikator yang terkait untuk persyaratan suatu kawasan wisata pantai antara lain:
1.      Identifikassi Keragaman Tumbuhan Pantai (Mangrove dan Non Mangrove)
            Tumbuhan pantai dapat didefenisikan sebagai tumbuhan yang hidup di daerah yang berkadar garam tinggi. Mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon (seperti Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, ceriops, lumnitzera, Exoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa) yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah passang surut pantai berlumpur (Bengen, 2004). Sedangkan vegetasi tumbuhan pantai non mangrove umumnya banyak ditemukan pada daerah pantai dengan substrat yang didominasi oleh pasir.
            Identifikasi tumbuhan pantai hubungannya dengan prospek hubungan pengelolaan wisata pantai dimaksudkan untuk dijadikan sebagai landasan teori dan bahan informasi dengan mengetahui keragaman jenis tumbuhan pantai yang nantinya dapat digunakan sebagai dassar pertimbangan wisata edukasi berbasis alam.
2.      Tipe Pantai
            Secara umum tipe pantai sangat ditentukan oleh intensitas, frekuensi dan kekuatan energi yang menerpa pantai tersebut. Daerah yang berenergi rendah, biasanya landai, bersedimen pasir halus dan lumpur, sedangkan yang terkena energi berkekuatan tinggi biasanya terjal, berbatu atau berpasir kasar.
            Tipe pantai dapat dilihat dari jenis substrat atau dedimen yang didukung dengan pengatan secara visual. Dalam Pedoman Perencanaan Pembangunan Pengaman Pantai Indonesia, di Indonesia sendiri didefenisikan ada tiga jenis utama tipe pantai yang dapat dibedakan berdasarkan substrat atau sedimen, sebagai berikut:
1.      Pantai berpasir
Umumnya pantai berpasir terdapat di seluruh dunia dan lebih dikenal dari pada pantai berbatu.  Hal ini disebabkan pantai berpasir merupakan tempat yang dipilih  untuk  melakukan berbagai aktivitas rekreasi (Nybakken,  1992). Pantai berpasir sebagian besar terdiri atas batu kuarsa dan feldspar, bagian yang paling banyak dan paling keras sisa – sisa pelapukan batu di gunung. Pantai yang berpasir dibatasi hanya di daerah dimana gerakan air yang kuat mengangkut partikel yang halus dan ringan.   Total bahan organik dan   organisme hidup di pantai yang berpasir jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jenis pantai lainnya (Dahuri et al., 2004).  Menurut Islami (2003) peruntukan pantai dengan substrat pasir hitam adalah boating, sedangkan pantai berpasir putih lebih bervariasi, seperti boating, selancar, renang, snorkling dan diving.   Parameter utama bagi daerah pantai berpasir  adalah pola arus  yang  akan  mengangkut  pasir  yang halus, gelombang yang akan melepaskan energinya di pantai dan angin yang juga merupakan pengangkut pasir (Dahuri et al., 2004).
2.       Pantai berbatu
Pantai berbatu merupakan pantai dengan topografi yang berbatu – batu memanjang ke arah laut dan terbenam di air (Dahuri et al., 2004). Pantai berbatu yang  tersusun dari bahan yang keras merupakan  daerah  yang  paling  padat mikroorganismenya dan mempunyai keragaman terbesar baik untuk spesies hewan maupun tumbuhan.  Keadaan ini berlawanan dengan pantai berpasir dan berlumpur  yang  hampir  tandus  (Nybakken,  1992).    Pantai  berbatu  menjadi habitat  berbagai  jenis  moluska,  bintang  laut,  kepiting,  anemon  dan  juga ganggang laut (Bengen, 2001).

3.      Pantai berlumpur
Pantai berlumpur memiliki substrat yang halus.  Pantai berlumpur hanya terbatas pada daerah intertidal yang benar – benar terlindung dari aktivitas laut terbuka.    Pantai  berlumpur  dapat  berkembang  dengan  baik  jika  ada  suatu sumber partikel sedimen yang butirannya halus.   Pantai berlumpur terdapat di berbagai  tempat,  sebagian  di  teluk  yang  tertutup,  gobah,  pelabuhan  dan terutama estuaria (Nybakken, 1992).

Karakteristik  pantai  berdasarkan kemiringannya  sangat  mempengaruhi aneka kegiatan/aktivitas wisata. Menurut Pangesti (2007) semakin landai suatu pantai maka semakin besar lebar pantai yang dapat dimanfaatkan untuk wisata. Pada daerah supratidal (daerah yang tidak tergenang) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti berjemur, bermain pasir, berjalan. Sedangkan untuk daerah intertidal merupakan daerah antara pasang tertingi dan surut terendah yang  dapat  dimanfaatkan sebagai tempat mandi dan  berenang.  Dan daerah Subtidal (daerah yang selalu tergenang air) dapat dimanfaatkan untuk area renang, wisata bahari dan olahraga air. Selanjutnya Yulianda (2007) mengemukakan bahwa tipe pantai menurut kemiringannya terbagi menjadi 4 tipe yaitu pantai datar dengan slop kemiringan < 10˚, landai 10˚ - 25˚, curam >25˚ -
45˚ dan terjal > 45 Pantai berlumpur didominasi oleh pasut dan sungai, kondisi pantai (Foreshore) sangat landai dan datar dan terdapat delta-delta di beberapa kawasan pantai. Adapun Pantai berlumpur merupakan hamparan lumpur sepanjang pantai yang dihasilkan dari proses sedimentasi atau pengendapan, biasanya terletak di dekat muara sungai. Lumpur tersebut terdiri atas partikel-partikel halus yang mengandung humus atau gambut. Tanah pantai ini mempunyai kandungan oksigen yang rendah dan hanya terdapat pada lapisan permukaan. Sedangkan kandungan asam sulfidanya cukup tinggi sehingga dapat mereduksi senyawa besi (ferri) di dalam tanah menjadi senyawa ferrosulfida (FeS2) atau firit.
Tanah pantai berasal dari endapan lumpur yang dibawah oleh aliran sungai. Lumpur yang berasal dari laut mengandung cangkang-cangkang foraminifera, fragmen-fragmen karang, cangkang molusca dan bahan lain yang menjadi sumber kapur yang penting bagi pantai berlumpur.
Struktur dan komposisi tumbuhan di kawasan pantai berlumpur Indonesia merupakan formasi hutan mangrove yang didominasi oleh Rhizophora sp., Avicennia sp., Bruguiera sp., Ceriops tagal., Sonneratia sp., dan Xylocarpus sp (Anonim, 2008).

4.      Pantai berkarang; dikawasan pantai ini terdapat semenanjung dan dinding tebing pantai yang diselingi antara pantai berlumpur dan berpasir.
5.      Pantai Berawa merupakan daerah yang tergenang air, baik secara permanen ataupun temporer. Tanah dan air pantai ini memiliki tingkat keasaman yang tinggi. Hutan berawa umumnya ditumbuhi oleh jenis tumbuhan seperti nipah (Nypa fruticans), nibung (Oncosperma tigillaria), sagu (Metroxylon sago), medang (Decassia cassia), jelutung (Dyera sp.), dll (Anonim, 2008).

Substrat atau sedimen adalah partikel yang diendapkan secara perlahan-lahan. Untuk wisata pantai akan sangat baik jika suatu pantai merupakan pantai yang berpasir atau dengan kata lain didominasi oleh substrat pasir, dibandingkan dengan pantai yang berbatu atau pantai yang didominasi oleh substrat karang. Ukuran butir sedimen sedang sampai kasar sangat baik untuk kegiatan wisata pantai dibandingkan ukuran butir sedimen yang sangat halus dan sangat kasar. Dari hasil pengamatan jenis substrat pula dapat digunakan dalam menentukan jenis kegiatan wisata apa saja yang dapat dilakukan pada wilayah pantai yang dijadikan objek wisata.

3.      Lebar Pantai
            Pengukuran lebar pantai hubungannya dengan kegiatan wisata dimaksudkan untuk mengetahui seberapa luas wilayah pantai yangdapat digunakan berbagai kegiatan wisata pantai. Lebar pantai dapat diukur dari akhir vegetasi terakhir di daratn hingga batas surut terendah.
4.      Kemiringan Pantai
Pantai adalah bagian dari daratan yang berbatasan dengan laut yang masih  terpengaruh  oleh  proses-proses  abrasi  (pengikisan  oleh  air laut), sedimentasi  (pengendapan),   dan  pasang  surut  air  laut.  Secara  umum menurut  bentuknya  pantai  dapat  dibedakan  menjadi  empat  macam  yaitu pantai datar, landai, curam dan pantai terjal (Yulianda, 2007). Untuk mendapatkan nilai kelandaian maka terlebih dahulu diukur kemiringannya.

Tabel 1. Hubungan antara topografi pantai dengan kemiringan

Parameter
Nilai sebutan
Kemiringan (0)
<10
10-25
>25-45
>45
Topografi Pantai
Datar
Landai
Curam
Terjal
Sumber : Yulianda (2007)
Secara umum menurut bentuknya pantai dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu pantai datar, landai, curam dan pantai terjal. Kelandaian pantai cenderung mempengaruhi keamanan seseorang untuk melakukan kegiatan wisata pantai seperti mandi dan renang. Pantai datar sampai landai sangat baik untuk kegiatan wisata renang dimana wisatawan dapat melakukan berbagai kegiatan seperti berenang, bermai pasir serta dapat bermain-main dengan ombak ditepinya. Hubungannya dengan pariwisata pantai, pengukuran kelandaian pantai dapat digunakan dalam penentuan batas aman berenang dengan batas toleransi sampai kedalaman kurang lebih 1,5 meter.
5.      Pasang Surut
Kita mungkin sering mendegar kata pasang surut air laut seperti ketika kita memilih laut  sebagai identitas wisata mungkin informasi yang di banyak di cari sebelumnya adalah mengenal kondisi dari  laut tujuan wisata itu sendiri apakah sedang dalam kondisi baik maupun tidak. Salah satu kondisi yang menjadi tolah ukur adalah pasang surut air laut. Apabilah laut sedang pasang maka akan lebih baik kita tidak memilih laut sebagai tujuan wisata sebaliknya apabila laut sedang surut mungkin hal itu baik untuk kita memilih wisata laut. Sebenarnya apa sih yang di maksud dengan kondisi pasang surut air laut
Pasang merupakan kondisi atau keadaan di mana keadaan merupakan
            Pengamatan pasang surut erat kaitannya dengan faktor oseanografi lainnya seperti kecepatan arus dan gelombang yang juga dipengaruhi oleh kedalaman, kemiringan dan kelandaian suatu perairan. Kisaran pasang surut yang tidak terlalu besar baik untuk pengembangan pariwisata pantai khususnya untuk kegiatan renang.
Fenomena pasang surut diartikan naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi (Pariwono, 1989). Selain itu, pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan (Dronkers, 1964). Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal berasal dari dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.
Beberapa teori yang mengkaji tentang pasang surut air laut antara lain: (1) Eqilibrium Theory, dan (2) Dynamical Theory. Berikut masing-masing penjelasan teori-teori tersebut.

6.      Arus      
            Arus laut adalah gerakan massa air laut yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Gerakan ini dapat secara horizontal maupun vertikal yang dapat menyebabkan sirkulasi air, dengan skala yang kecil dan berukuran besar.
            Terjadinya arus di lautan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti perbedaan densitas air laut, gradien tekanan mendatar dan gesekan tekanan air. Sedangkan faktor eksternal seperti gaya matahari dan bulan yang dipengaruhi oleh tahanan dasar laut dan gaya coriolus, perbedaan tekanan udara, gaya gravitasi, gaya tektonik dan angin.
Pengertian Arus Laut (SeaCurrent) - Arus laut adalah gerakan massa air laut dari suatu tempat ke tempat yang lain. Gerakan ini secara mendatar atau horizontal berupa arus permukaan atau arus dasar, dan dapat pula merupakan gerakan massa air secara vertical dari lapisan air bagian bawah ke lapisan atas atau sebaliknya. Menurut Gross 1972, arus merupakan gerakan horizontal atau vertikal dari massa air menuju kestabilan yang terjadi secara terus menerus. Gerakan yang terjadi merupakan hasil resultan dari berbagai macam gaya yang bekerja pada permukaan, kolom, dan dasar perairan. Hasil dari gerakan massa air adalah vector yang mempunyai besaran kecepatan dan arah. Ada dua jenis gaya yang bekerja yaitu eksternal dan internal Gaya eksternal antara lain adalah gradien densitas air laut, gradient tekanan mendatar dan gesekan lapisan air (Gross,1990)

 Terjadinya arus di lautan disebabkan oleh faktor internal seperti perbedaan densitas air laut, gradien tekanan mendatar dan gesekan lapisan air dan faktor eksternal seperti gaya tarik matahari dan bulan yang dipengaruhi oleh tahanan dasar laut dan gaya coriolis, perbedaan tekanan udara, gaya gravitasi, gaya tektonik dan angin ( Gross, 1990).

Menurut Bishop (1984), gaya-gaya utama yang berperan dalam sirkulasi massa air adalah gaya gradien tekanan, gaya coriolis, gaya gravitasi, gaya gesekan, dan gaya sentrifugal. Gaya-gaya yang bekerja dalam pembentukan arus antara lain tegangan angin, gaya Viskositas,gaya Coriolis, gaya gradien tekanan horizontal, gaya yang menghasilkan pasut. Ketika angin berhembus di laut, energi ditransfer dari angin ke batas permukaan, sebagian energi ini digunakan dalam pembentukan gelombang gravitasi permukaan, yang memberikan pergerakan air dari yang kecil kearah perambatan gelombang sehingga terbentuklah arus dilaut. Semakin cepat kecepatan angin, semakin besar gaya gesekan yang bekerja pada permukaan laut, sehingga semakin besar arus permukaan. Dalam proses gesekan antara angin dengan permukaan laut dapat menghasilkan gerakan air yaitu pergerakan air laminar dan pergerakan air turbulen (Supangat,2003).

 Pond dan Pickard 1983 mengklasifikasikan gerakan massa air berdasarkan penyebabnya, terbagi atas :
a.         Gerakan dorongan angina
Angin adalah factor yang membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin mempunyai kecepatan yang berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang dibangkitkan oleh angin memiliki perubahan yang kecil seiring pertambahan kedalaman hingga tidak berpengaruh sama sekali.
b.        Gerakan termohalin
Perubahan densitas timbul karena adanya perubahan suhu dan salinitas anatara 2 massa air  yang densitasnya tinggi akan tenggelam dan menyebar dibawah permukaan air sebagai arus dalam dan sirkulasinya disebut arus termohalin.
c.         Arus Pasut
Arus yang disebabkan oleh gaya tarik menarik antara bumi dan benda benda angkasa. Arus pasut ini merupakan arus yang gerakannya horizontal.
d.        Turbulensi
Suatu gerakan yang terjadi pada lapisan batas air dan terjadi karena adanya gaya gesekan antar lapisan
e.         Tsunami
Sering disebut sebagai gelombang seismic yang dihasilkan dari pergeseran dasar laut saat etrjadi gempa.
 Gelombang lain ; Internal, Kelvin dan Rossby/Planetary.

Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut. Faktor pembangkit arus permukaan disebabkan oleh adanya angin yang bertiup diatasnya. Tenaga angin memberikan pengaruh terhadap arus permukaan (atas) sekitar 2% dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus ini akan berkurang sesuai dengan makin bertambahnya kedalaman perairan sampai pada akhirnya angin tidak berpengaruh pada kedalaman 200 meter (Bernawis,2000).

Oleh karena dibangkitkan angin, arah arus laut permukaan (atas) mengikuti arah angin yang ada. Khususnya di Asia Tenggara karena arah angin musim sangat terlihat perubahannya antara musim barat dan musim timur maka arus laut permukaan juga banyak dipengaruhinya. Arus musim barat ditandai oleh adanya aliran air dari arah utara melalui laut Cina bagian atas, laut Jawa, dan laut Flores. Adapun pada musim timur sebaliknya mengalir dari arah selatan.

Selain pergerakan arah arus mendatar, angin dapat menimbulkan arus air vertikal yang dikenal dengan upwelling dan downwelling di daerah-daerah tertentu. Proses upwelling adalah suatu proses massa air yang didorong ke atas dari kedalaman sekitar 100 sampai 200 meter. Angin yang mendorong lapisan air permukaan mengakibatkan kekosongan di bagian atas, akibatnya air yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang berada di atas. Oleh karena air yang dari kedalaman lapisan belum berhubungan dengan atmosfer, maka kandugan oksigennya rendah dan suhunya lebih dingin dibandingkan dengan suhu air permukaan lainnya. Walaupun sedikit oksigen, arus ini mengandung larutan nutrien seperti nitrat dan fosfat sehingga cederung mengandung banyak fitoplankton. Fitoplankton merupakan bahan dasar rantai makanan di lautan, dengan demikian di daerah upwelling umumnya kaya ikan.
7.      Kedalaman
kedalaman kegiatan wisata pantai khususnya renag sangat penting untuk mempertimbangkan kedalaman karena sangan berpengaruh pada aspek keselamatan pada saat berenang. Secara fisik kedalaman pada perairan dangkal cukup baik untuk di jadikan sebagai objek rekreasi renang di bidang perairan yang dalam
8.       Arah Angin
Angin Laut adalah angin yang bergerak dalam daerah darat dan laut. Angin Laut adalah jenis angin yang bergerak dari lautan ke daratan, sebaliknya pada malam hari, daratan lebih dingin daripada lautan.Saat itu udara bergerak dari daratan ke lautan, peristiwa ini disebut Angin darat Adanya angin darat dan angin laut ini menyebabkan perubahan garis pantai. Air laut atau ombak yang dihasilkan angin lama kelamaan akan mengikis pasir atau batuan pantai.Air laut membawa pasir atau serpihan batu ke laut.
9.      Gelombang laut
Gelombang laut adalah bentuk permukaan laut yang berupa punggung atau puncak gelombang dan palung atau lembah gelombang oleh gerak ayun (oscillatory movement) akibat tiupan angin, erupsi gunung api, pelongsoran dasar laut, atau lalu lintas kapal (Sunarto, 2003). Gelombang laut memiliki dimensi yaitu periode gelombang, panjang gelombang, tinggi gelombang, dan cepat rambat gelombang
Dalam usaha menjelaskan proses tumbuhnya gelombang di laut, banyak teori dikemukakan para ahli, tetapi hanya ada dua teori yang saling melengkapi dan dapat menjelaskan pertumbuhan gelombang di lautan.
1.      Teori yang pertama dikemukakan oleh Phillips (1957), menyatakan bahwa: Turbulensi dalam angin menyebabkan fluktuasi acak permukaan laut yang menghasilkan gelombang-gelombang kecil-kecil (riak) dengan panjang gelombang beberapa sentimeter. Gelombang-gelombang kecil-kecil ini kemudian tumbuh secara linear  melalui proses resonansi dengan fluktuasi tekanan turbulensi.
2.      Teori yang kedua dikemukakan oleh Miles (1957), dan dikenal dengan teori ketidakstabilan atau mekanisme arus balik (feed-back Mechanisme), menyatakan bahwa: Ketika ukuran gelombang-gelombang kecil yang sedang tumbuh mulai mengganggu aliran udara di atasnya, angin yang bertiup memberikan tekanan yang semakin kuat seiring dengan meningkatnya ukuran gelombang, sehingga gelombang tumbuh menjadi besar. Proses pemindahan energi ini berlangsung secara tak stabil, semakin besar ukuran gelombang semakin cepat gelombangnya. Ketidakstabilan menyebabkan gelombang tumbuh secara eksponensial.
Seiring dengan proses pertumbuhannya, gelombang-gelombang yang sedang tumbuh yang beragam energi dan frekuensinya saling berinteraksi untuk menghasilkan gelombang yang lebih panjang. Interaksi yang terjadi melibatkan proses pemindahan energi secara tak linear dari gelombang-gelombang frekuensi tinggi ke gelombang yang frekuensinya yang lebih rendah. Teori tentang interaksi tak linear dikemukan oleh Hasselmann (1961; 1963), dan Hasselmann, et al., 1973. Proses transfer energi ini menyebabkan gelombang-gelombang periode panjang mempunyai energi yang lebih tinggi. Jika periode gelombang cukup panjang, cepat rambat gelombang dapat melebihi kecepatan angin pembentuknya, sehingga gelombang dapat keluar dari daerah pertumbuhannya.
Bentuk dari sebuah gelombang menunjukkan gerakan partikel-partikel air yang ada di dalam gelombang. Walaupun gelombang bergerak makin maju ke depan, partikel-partikel di dalam gelombang akan meninggalkan jejak yang membentuk lingkaran. Jejak lingkaran yang dibuat oleh partikel-partikel akan menjadi lebih kecil sesuai dengan makin besarnya kedalaman di bawah permukaan gelombang.






 



Bentuk & Bagian-bagian Gelombang

Gelombang yang terbentuk di daerah pertumbuhannya disebut ”Sea” dan gelombang yang telah atau dapat keluar dari daerah pertumbuhannya disebut ”swell”. Di daerah pertumbuhannya, gelombang mempunyai variasi frekuensi, ukuran, dan arah rambat yang beragam, sehingga permukaan laut tampak tidak teratur. Variasi ukuran dan frekuensi swell terbatas pada gelombang frekuensi rendah yang saling berdekatan, sehingga perambatan gelombang teratur dan nampak jelas di permukaan laut.
Penjelasan tentang proses tumbuhnya gelombang menunjukkan bahwa gelombang-gelombang pendek tumbuh dengan sangat cepat, jauh lebih cepat daripada gelombang-gelombang yang lebih panjang. Ini berarti bahwa gelombang pendek mendapat suplai energi yang lebih besar dari angin daripada gelombang panjang.
Klasifikasi gelombang berdasarkan ukuran dan penyebabnya (Pond and Pickard, 1983):

1.        Riak (ripples) / gelombang kapiler (capillarywave) dengan panjang gelombang 1,7 meter dan periode kurang dari 0,2 detik disebabkan oleh adanya tegangan permukaan dan tiupan angin yang tidak terlalu kuat pada permukaan laut.
2.        Gelombang angin (seas/wind waves) dengan panjang gelombang sampai kira-kira 130 meter dan periode 0,2- 0,9 detik ditimbulkan angin.
3.        Alun (swell) dengan panjang gelombang sampai ratusan meter dan periode 0,9-15 detik ditimbulkan oleh angin yang bertiup lama.
4.        Gelombang pasang surut (tidal wave) dengan panjang gelombang beberapa kilometer dengan periode 5 jam,12 jam, dan 25 jam oleh fluktuasi gaya gravitasi Matahari dan Bulan.

























BAB III
METODE PRAKTEK

PETA LOKASI PRATIKUM










Metode yang di lakukan adalah metode survey yang merupakan suatu metode dalam mengkaji objek melalui observasi secara langsung di lapangan. Analisis yang di gunakan adalah analisis kualitatif berdasarkan parameter  yang diamati

1.1.Bahan dan Alat Pratikum
Bahan dan alat pratikum yang di gunakan sebagai berikut :
 Alat atau bahan
Kegunaannya
1.      GPS

2.      Rol Meter
3.      Kamera
4.      Azimuth
5.      Tali nilon
6.      Biola plastic
7.      Kantong plastik
8.      Bambu
9.      Buku dan pena
Marek garmin untuk menentuka kordinat geografis dan ketinggian tempat dari permukaan laut
Untuk mengukur pantai yang mengalami pengikisan /abrasi
Untuk mengambil gambar di lapangan yang sesuai tujuan pratikum
Untuk mengukur kemiringan lereng suatu tempat
Untuk mengukur kecepatan arus
Untuk mengukur kecepatan arus
Untuk mengetahui arang angin
Untuk pancang di masing-masing titik sebanyak lima titik
Untuk menulis datang yang akan di ambil
1.2.Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada hari saptu  pada tanggal 28 April 2018.  Waktu 09:00 WIT. Lokasi penelitian berada di kelurahan pantai Kastela.

1.3.  Tahapan Pratikum
Pengambilan sampel dalam praktek di lakukan sesuai dengan maksud dan tujuan praktek sebagai berikut :
1.      Pengambilan sampel di lakukan di areal yang di kategorikan sebagai sumber pengikisan akibat gelombang dan arus laut serta pengendapan akibat banjir sungai
2.      Pada masing-masing titik pengambilan sampel di tentukan berdasarkan jarak titik pertama 30 meter, titik kedua 30 meter, titik ke tiga 30 meter, titik ke empat 30 meter, titik ke lima 30 meter (arah vartikel
3.      Selanjutnya melakukan wawancara terhadap masyarakat setempat untuk mengetahui seberapa luas abrasi pantai selama lima tahun terakhir.








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      HASIL
No
Indikator pengukuran bentuk lahan pantai
1
Indikator
Data pengukuran pertama
Data pengukuran kedua
Patok pertama
-        jarak dari garis pantai
-        jarak antar patok
-        lebar pesisr ke garis pantai
-        kemiringan pantai
-        Kecepatan arus laut
-        Arah angin
-        Kedalaman
-        Tinggi gelombang
-        Titik kordinat  :
·       Bujur
·       Lintang
100 meter
30 meter
23 meter
2,300
2 menit 13 detik / 2,5 meter
Barat laut
25 Cm
27 Cm

N :000, 49,2540
E : 1270, 15, 146
100 meter
30 meter
30 meter
2,300
12 detik / 2,5 meter
Timur
80 Cm
1 meter

N :000, 49,2540
E : 1270, 15, 146
2
Indikator
Data pengukuran pertama
Data pengukuran kedua
Patok kedua
-        jarak dari garis pantai
-        lebar pesisr ke garis pantai
-        kemiringan pantai
-        jarak antar patok
-        Kecepatan arus laut
-        Arah angin
-        Kedalaman
-        Tinggi gelombang
-        Titik kordinat  :
·       Bujur
·       Lintang
100 meter
23 meter
2,300
30 meter
1 menit 6 detik / 2,5 meter
Barat laut
21 Cm
23 Cm

N :000, 54,6720
E : 1270, 18, 301
100 meter
30 meter
2,300
30 meter
23 detik / 2,5 meter
Timur
87 Cm
1,30 meter

N :000, 54,6720
E : 1270, 18, 301
3
Indikator
Data pengukuran pertama
Data pengukuran kedua
Patok ketiga
-        jarak dari garis pantai
-        lebar pesisr ke garis pantai
-        kemiringan pantai
-        jarak antar patok
-        Kecepatan arus laut
-        Arah angin
-        Kedalaman
-        Tinggi gelombang
-        Titik kordinat  :
·       Bujur
·       Lintang
100 meter
23 meter
2,300
30 meter
1 menit 36 detik/ 2,5 meter
Barat laut
15 Cm
20 Cm

N :000, 56,9760
E : 1270, 17, 790
100 meter
30 meter
2,300
30 meter
15 detik / 2,5 meter
Timur
78 Cm
98 Cm

N :000, 56,9760
E : 1270, 17, 790
4
Indikator
Data pengukuran pertama
Data pengukuran kedua
Patok ke empat
-        jarak dari garis pantai
-        lebar pesisr ke garis pantai
-        kemiringan pantai
-        jarak antar patok
-        Kecepatan arus laut
-        Arah angin
-        Kedalaman
-        Tinggi gelombang
-        Titik kordinat  :
·       Bujur
·       Lintang
100 meter
23 meter
2,300
30 meter
1 menit 14 detik / 2,5 meter
Utara
20 Cm
24 Cm

N :000, 52,9640
E : 1270, 17, 780
100 meter
30 meter
2,300
30 meter
23 detik / 2,5 meter
Timur
85 Cm
1,5 meter

N :000, 52,9640
E : 1270, 17, 780
5
Indikator
Data pengukuran pertama
Data pengukuran kedua
Patok ke lima
-        jarak dari garis pantai
-        lebar pesisr ke garis pantai
-        kemiringan pantai
-        jarak antar patok
-        Kecepatan arus laut
-        Arah angin
-        Kedalaman
-        Tinggi gelombang
-        Titik kordinat  :
·       Bujur
·       Lintang
100 meter
23 meter
2,300
30 meter
1 mentit 4 detik / 2,5 meter
Utara
20 Cm
27 Cm

N :000, 49,9970
E : 1270, 16, 730
100 meter
30  meter
2,300
30 meter
15 detik / 2,5 meter
Timur
90 Cm
1 meter

N :000, 49,9970
E : 1270, 16, 730

B.       PEMBAHASAN
Pretikum dilakukan pada waktu pagi dan sore sehinggakami dapa memastika karakteristik pantai tersebut. Untuk itu kami dapat melakukan pratikum dengan hasil indicator sebagai berikut: kecepatan arus, kedalam, arah angina, tinggi gelombang, kemiringan pantai, pasang surut air laut.
Berikut ini dua pokok pembahasan yang kami lakukan pada saat di lapangan yaitu :
Ø  Faktor apa saja yang mengakibatkan terjadinya abrasi pantai Kastela
1.      Faktor alam.
Fenomena alam yang menyebabkan erosi pantai kastela yakni pasang surut air laut dan juga tiupan angin laut yang menghasilkan gelombang serta arus laut yang kuat sehingga dapat membawa partikel-partikel batuan ke dasar laut. Pengaruh gelombang juga dapat menghantam karang-karang  yang ada di pantai Kastelah
2.      Penurunan permukaan tanah.
Kelurahan Kastela merupakan daerah yang memiliki krisis ari. Sehinggga warga tersebut membuat sumur untuk mengambil air tanan. Pengambilan air tanah yang berlebihan mengakibatkan turunnya permukaan tanah sehingga daratan menjadi lebih rendah dari lautan. Hal ini tentu meningkatkan resiko terjadinya banjir rob akibat meluapnya air laut ke daratan.
3.      Kerusakan hutan mangrove.
Warga Masyarakat Kelurahan Kastelahyang bertempat di pesisir pantai menebang hutan mangrove untuk dijadikan pertambakan. Selain itu, kayu- kayu dari pohon mangrove juga dijual dan dijadikan pondasi bangunan. Kegiatan tersebut sangat mengganggu regenerasi dan menghambat proses suksesi hutan mangrove. Hal ini juga menyebabkan terjadi abrasi, dan hilangnya beberapa ekosistem pulau.
4.      Kerusakan akibat kegiatan manusia. 
Aktivitas manusia yang menjadi penyebab erosi pantai yaitu dalam bentuk penambangan pasir, pencemaran sampah anorganik dan penambangan terumbu karang.
5.      Perubahan iklim global atau yang sering disebut dengan pemanasan global.
Meningkatnya suhu bumi menyebabkan mencairnya es di kutub. Ketika es di kutub mencair secara signifikan maka akan menyebabkan naiknya permukaan air laut sehingga akan menggerus daratan yang rendah seperti pantai


Ø  Seberapa besar perubahan garis pantai yang ada di kelurahan Kastela selama lima tahun terakhir dari tahun 2014 – 2018
Kelurahan Kastela merupakan salah satu Kelurahan yang memiliki pesisir pantai yang panjang dengan berdiameter kurang lebih 200 meter. Sedangkan lebar garis pantai berkisar 10-20 meter namun hal tersebut dapat berkurang di karenakan adanya kelombang air laut dan pasang surut.
Perubahan garis pantai kastela pada lima tahun terakhir mengalami perubahan kata penduduk setempat (Ibu Mariana Kodogo,04.2018) mengatakan bahwa perubahan garis pantai kastela pada tahun 2014-2018 perna mengalami pengikisan pantai atau abrasi. Dan pernah terjadi air laut naik sampai ke rumah warga karena di sebabkan air laut pasang dan di ikuti oleh gelombang. Pada lima tahun terakhir tersebut warga kelurahan Kastela telah melakukan salah satu program yaitu menanam pohon bakau di sepanjang pantai. Dan mereka beranggapan bahwa adanya pohon bakau dapat menahan abrasi atau pengikusan air lau. namun Diiringi Berjalannya wakktu pohon bakau tersebut mengalami kerusakan karena tidak ada pengontrolan dari pihak keamanan atau warga setempat.
Adapun menurut salah satu warga (Barsi ,04,2018) mengatakan pada lima tahun terakhir ini perna terjadi perubahan garis pantai atau disebut dengan abrasi pantai. Karena tidak tersedianya penyangga pohon di pesisir pantai sehingga air pun naik dan hampir masuk ke perumahan warga yang ada di sekitar pantai.  








BAB V
PENUTUP
a.        Kesimpulan
Geologi pantai merupakn suatu kajian tentang bentuk lahan pantai, evolusinya proses-roses yang bekerja padanya dan perubahan-perubahan yang terjadi pada saat tertentu.
Adapin beberapa faktor yang dapat terjadinya abrasi atau pengikisan
1.      Faktor alam
2.      Penurunan permukaan tanah
3.      Kerusakan hutan manggrov
4.       Karusakan akibat ulah manusia
5.      Perubahan iklim global atau yang sering disebut dengan pemanasan global.

b.        Saran
Akhirnya kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan untuk itu kami mengharapkan saran dan kritiknya yang bersifat membangun dari dosen pembimbing dan teman-teman agar penulisan laporan ini kedepannya lebih baik.   Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita









DAFTAR PUSTAKA

Sukri Indi 2018 karakteristi betuk lahan pantai dan abrasi pantai kelurahan kastelah kota ternate vol 1. No 28 Apri 2018,
Solihuddin, Tb.2011.Karakteristik Pantai dan Proses Abrasi di Pesisis Padang Pariaman Sumatera Barat.Jakarta: Globë Volume 13 No 2 Desember : 112 – 120.
Yudhicara.2008. Kaitan antara karakteristik pantai Provinsi Sumatera Barat dengan potensi kerawanan tsunami.Bandung: Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 3 No. 2 Juni 2008: 95-106.
Hidayat, Rahmad.2014. Upaya Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam Penanggulangan Abrasi.Pekan Baru:Jom FISIP Volume 1 No. 2 – Oktober 2014










Dokumentasi                             
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar