KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunianya.
Sehingga kami dapat menulis dan menyelesaikan sebuah laporan Geologi pantai yang
sangat sederhana ini dengan berjudul klasifikasi lahan pantai laporan ini dibuat guna
mmenuhi tugas mata kuliah Geologi Pantai dan sebagai pembelajaran dalam menyusun sebuah
laporan.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih
sebesar-besarnya kepada bapak dosen pengasuh mata kuliah Geologi Pantai yang
telah memberikan dorongan kepada kami
sehingga kami dapat menyelesaikan
laporan ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Akhirnya
kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan untuk itu kami mengharapkan saran dan kritiknya yang bersifat
membangun dari dosen pembimbing dan teman-teman agar penulisan laporan ini
kedepannya lebih baik. Semoga laporan
ini dapat bermanfaat bagi kita . Sholawat serta salam pun kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW dan
para sahabatnya, yang telah memberikan tauladan baik sehingga akal dan fikiran
penyusun mampu manyelesaikan laporan
ini, semoga kita termasuk umatnya yang kelak mendapatkan syafa’at dalam menuntut ilmu. Allahumah Amiin Yaa
Rabb.
.............amin.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ........................................................................................... 1
DAFTAR
ISI .......................................................................................................... 2
BAB
I PENDAHULUAN ..................................................................................... 3
a. Lata
belakan.................................................................................................
3
b. Rumusan
masalah ....................................................................................... 3
c. Tujuan
laporan ............................................................................................ 3
BAB
II TINJAUAN TEORI..................................................................................
4
1. Pryaratan
lahan untuk klasifikasi pantai......................................................
4
2. Tipe
pantai .................................................................................................. 8
BAB
III. METODE PRATIKUM ......................................................................... 21
1. Bahan
dan Alat Pratikum ........................................................................... 21
2. Waktu
dan Tempat Praktikum.....................................................................
21
3. Tahapan
pratikum ....................................................................................... 21
BAB
IV HASIL DAN PEMABAHASAN .......................................................... 23
A. Hasil
............................................................................................................ 23
B. Pembahasan
................................................................................................ 24
BAB
III PENUTUP ............................................................................................... 27
a. Kesimpulan
................................................................................................. 27
b. Saran
........................................................................................................... 27
DAFTAR
PUSTAKA ............................................................................................ 28
Dokumtasi
............................................................................................................... 29
BAB.I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Geologi
pantai meruppakan suatu pengkajian tentang bentuk lahan pantai , evolusinya
proses-proses yang bekerja padanya, dan perubahan-perubahan yang terjadi pada
say tertentu. Dari pengertian tersebut di ketahui secara jalas bahwa lingkup
gelogi pantai itu adalah seluruh wilayah pantai. Objek pengkajinnya berupa
bentuk lahan, gensis, proses, maupun di namika pantai. Intilah kepentingan yang
telah di pandamkan itu adalah beac (griksik) coast (pesisi) dan shore (pantai)
dari ketiga kata itu lingkup yang terluas adalah pesisir (coast) sebab pesisir
mencakup wilayah daratan sejauh masih mendapat pengaruh laut (angin laut pasang
surut dan perembasan air laut) serta wilayah laut sejauh masih mendapat
pengaruh dari darat (aliran air tawar dan sedimen)
Garis
pantai siliklasik termasuklah pesisir (beaches), pulau penggalian
1.2.Masalah praktek
Ø Faktor
apa saja yang mengakibatkan terjadinya abrasi pantai Kastela
Ø Seberapa
besar perubahan garis pantai yang ada di kelurahan Kastela selama lima tahun
terakhir dari tahun 2014 – 2018
1.3.Tujuan praktek
Mahasiswa
mampu mengidentifikasi atau mengenali perubahan
garis pantai yang ada di tempat pratikum di kelurahan Kastela ternate
bagian selatan
BAB.II
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Persyaratan
Lahan Untuk Klasifikasi Pantai
Dahuri
et
al. (2004)
mendefinisikan kawasan
pesisir sebagai suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Apabila ditinjau dari garis pantai
(coast line),
maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas, yaitu : batas yang sejajar garis pantai (long shore) dan batas
yang tegak lurus terhadap garis
pantai (crossshore). Menurut Soegiarto (1976) dalam Dahuri et al. (2004)
definisi
wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara
darat dan laut;
ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat – sifat laut seperti pasang
surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut wilayah pesisir
mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses – proses alami yang terjadi di
darat seperti sedimentasi
dan
aliran air tawar, maupun yang
disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan
dan pencemaran.
Ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang
dinamis
dan mempunyai kekayaan habitat
yang beragam, di darat
maupun di
laut, serta saling berinteraksi antara habitat tersebut.
Bengen (2001) menyatakan kawasan pesisir dari sudut ekologis sebagai lokasi
dari beberapa ekosistem yang unik dan saling terkait, dinamis dan produktif. Ekosistem pesisir mempunyai kemampuan
terbatas terhadap masukan limbah. Hal ini sangat tergantung pada volume dan jenis
limbah yang masuk. Apabila limbah tersebut
melampaui kemampuan asimilasi
perairan pesisir, maka kerusakan ekosistem dalam bentuk pencemaran akan terjadi.Dalam suatu kawasan
pesisir terdapat satu
atau lebih ekosistem dan sumberdaya pesisir.
Gambar
2-2 Zonasi
wilayah pesisir dan
lautan secara horisontal
dan
vertikal (Nyabakken,
1992
Menurut Nybakken
(1992), ekosistem laut dapat dilihat dari segi horizontal dan vertikal. Secara horizontal kawasan pelagik terbagi menjadi dua yaitu laut pesisir (zona neritik) yang mencakup daerah paparan benua dan laut
lepas (lautan
atau zona oseanik). Zonasi perairan laut dapat pula dilakukan
atas dasar faktor – faktor fisik dan
penyebaran komunitas biotanya.
Seluruh
daerah perairan terbuka disebut
kawasan pelagik dan kawasan bentik adalah kawasan dibawah kawasan pelagik atau dasar laut. Organisme pelagik adalah organisme
yang hidup di laut terbuka dan lepas dari dasar laut. Zona dasar laut beserta
organismenya disebut daerah dan organisme bentik. Secara
vertikal
wilayah laut
dibagi berdasarkan intensitas cahaya matahari yang masuk ke perairan.
Zona fotik adalah
bagian
kolom perairan
laut yang masih mendapat cahaya matahari, disebut juga zona epipelagis. Zona afotik
berada
dibawah zona fotik, yaitu
daerah yang secara terus menerus berada dalam keadaan gelap
dan
tidak mendapatkan
cahaya matahari. Zonasi wilayah pesisir dan lautan secara horisontal
dan
vertikal dapat dilihat pada gambar dibawah ini
Kawasan Pantai
Gambar
2-3. Batas daerah pantai (Pratikto
et. al., 1997)
Pratikto et al. (1997), menyatakan bahwa berdasar asal mula
pembentukannya, pantai di Indonesia dikategorikan menjadi
4 kelompok yaitu :
1.
Pantai tenggelam (sub-emergence) : terbentuk oleh genangan air laut
pada daratan yang
tenggelam
2.
Pantai
timbul (emergence) :
terbentuk oleh
genangan air
laut
pada daratan yang
sebagian terangkat.
3.
Pantai netral
: pembentukannya
tidak
tergantung pada pengangkatan atau penurunan daratan, melainkan
pengendapan aluvialnya.
Pantai ini
dicirikan dengan pantai pada ujung delta yang dalam dengan
bentuk pantai sederhana
atau melengkung
4.
Pantai campuran (compound): terbentuk oleh proses pengangkatan dan
penurunan daratan, yang diindikasikan oleh
adanya daratan pantai
(emergence)
dan
teluk – teluk
(sub-emergence)
Karakteristik bentuk pantai berbeda – beda antara
tempat yang satu
dengan tempat lainnya. Ada pantai yang berlumpur, berpasir yang datar dan
landai, berbatu
dan
terjal. Keadaan topografi dan geologi wilayah pesisir mempengaruhi
perbedaan bentuk pantai. Gambar pantai (pantai berpasir,
berbatu dan
berlumpur)
secara visual
dapat
dilihat gambar dibawah ini.
Beberapa
parameter atau indikator yang terkait untuk persyaratan suatu kawasan wisata
pantai antara lain:
1. Identifikassi
Keragaman Tumbuhan Pantai (Mangrove dan Non Mangrove)
Tumbuhan
pantai dapat didefenisikan sebagai tumbuhan yang hidup di daerah yang berkadar
garam tinggi. Mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub
tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon (seperti Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, ceriops, lumnitzera,
Exoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa) yang mampu tumbuh
dan berkembang pada daerah passang surut pantai berlumpur (Bengen, 2004). Sedangkan vegetasi tumbuhan pantai non mangrove
umumnya banyak ditemukan pada daerah pantai dengan substrat yang didominasi
oleh pasir.
Identifikasi tumbuhan pantai
hubungannya dengan prospek hubungan pengelolaan wisata pantai dimaksudkan untuk
dijadikan sebagai landasan teori dan bahan informasi dengan mengetahui
keragaman jenis tumbuhan pantai yang nantinya dapat digunakan sebagai dassar
pertimbangan wisata edukasi berbasis alam.
2.
Tipe
Pantai
Secara umum tipe
pantai sangat ditentukan oleh intensitas, frekuensi dan kekuatan energi yang
menerpa pantai tersebut. Daerah yang berenergi rendah, biasanya landai,
bersedimen pasir halus dan lumpur, sedangkan yang terkena energi berkekuatan
tinggi biasanya terjal, berbatu atau berpasir kasar.
Tipe
pantai dapat dilihat dari jenis substrat atau dedimen yang didukung dengan
pengatan secara visual. Dalam Pedoman Perencanaan Pembangunan Pengaman Pantai
Indonesia, di Indonesia sendiri didefenisikan ada tiga jenis utama tipe pantai
yang dapat dibedakan berdasarkan substrat atau sedimen, sebagai berikut:
1.
Pantai berpasir
Umumnya pantai berpasir terdapat di seluruh dunia dan lebih dikenal
dari
pada pantai berbatu. Hal
ini
disebabkan pantai berpasir merupakan tempat yang
dipilih untuk melakukan berbagai aktivitas rekreasi (Nybakken,
1992). Pantai berpasir sebagian besar terdiri atas batu kuarsa dan feldspar, bagian yang paling banyak dan paling keras sisa – sisa pelapukan batu di gunung.
Pantai
yang
berpasir dibatasi
hanya di daerah dimana gerakan air yang kuat
mengangkut
partikel yang halus dan ringan. Total
bahan organik dan
organisme hidup di pantai yang berpasir jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jenis pantai lainnya (Dahuri et al., 2004).
Menurut Islami (2003) peruntukan pantai dengan substrat
pasir hitam adalah boating, sedangkan pantai berpasir putih lebih bervariasi, seperti boating, selancar, renang, snorkling dan diving. Parameter utama bagi
daerah pantai berpasir adalah pola arus
yang
akan mengangkut
pasir yang halus, gelombang yang akan melepaskan energinya di pantai dan angin yang juga merupakan
pengangkut pasir (Dahuri et al., 2004).
2. Pantai berbatu
Pantai
berbatu merupakan pantai dengan topografi
yang berbatu – batu memanjang ke arah laut
dan
terbenam di air (Dahuri et al., 2004). Pantai berbatu yang tersusun
dari bahan yang keras merupakan daerah yang paling padat
mikroorganismenya dan mempunyai keragaman terbesar baik untuk spesies
hewan maupun tumbuhan. Keadaan ini
berlawanan dengan pantai berpasir dan
berlumpur yang hampir
tandus
(Nybakken,
1992). Pantai berbatu menjadi
habitat berbagai jenis
moluska, bintang laut,
kepiting, anemon
dan juga ganggang laut (Bengen,
2001).
3.
Pantai berlumpur
Pantai
berlumpur
memiliki substrat yang halus. Pantai
berlumpur hanya terbatas pada
daerah intertidal
yang benar – benar terlindung dari
aktivitas laut
terbuka. Pantai
berlumpur
dapat berkembang
dengan
baik
jika ada
suatu sumber partikel sedimen yang butirannya halus.
Pantai berlumpur terdapat di
berbagai tempat,
sebagian
di teluk yang tertutup,
gobah,
pelabuhan dan
terutama estuaria (Nybakken, 1992).
Karakteristik
pantai
berdasarkan kemiringannya sangat mempengaruhi aneka kegiatan/aktivitas wisata. Menurut Pangesti (2007) semakin landai suatu
pantai maka semakin
besar lebar pantai yang dapat dimanfaatkan untuk
wisata. Pada daerah supratidal (daerah yang tidak tergenang) dapat dimanfaatkan untuk
berbagai
kegiatan seperti berjemur, bermain pasir, berjalan. Sedangkan untuk daerah intertidal
merupakan daerah
antara pasang
tertingi dan
surut terendah yang
dapat dimanfaatkan sebagai tempat mandi dan
berenang. Dan daerah
Subtidal (daerah yang selalu tergenang air) dapat dimanfaatkan untuk area renang, wisata bahari dan olahraga air.
Selanjutnya Yulianda (2007) mengemukakan bahwa tipe pantai menurut kemiringannya terbagi
menjadi 4 tipe
yaitu pantai datar dengan slop kemiringan < 10˚, landai 10˚ - 25˚, curam >25˚
-
45˚ dan terjal > 45 Pantai
berlumpur didominasi oleh pasut dan sungai, kondisi pantai (Foreshore) sangat
landai dan datar dan terdapat delta-delta di beberapa kawasan pantai. Adapun
Pantai berlumpur merupakan hamparan lumpur sepanjang pantai yang dihasilkan
dari proses sedimentasi atau pengendapan, biasanya terletak di dekat muara
sungai. Lumpur tersebut terdiri atas partikel-partikel halus yang mengandung
humus atau gambut. Tanah pantai ini mempunyai kandungan oksigen yang rendah dan
hanya terdapat pada lapisan permukaan. Sedangkan kandungan asam sulfidanya
cukup tinggi sehingga dapat mereduksi senyawa besi (ferri) di dalam tanah
menjadi senyawa ferrosulfida (FeS2) atau firit.
Tanah
pantai berasal dari endapan lumpur yang dibawah oleh aliran sungai. Lumpur yang
berasal dari laut mengandung cangkang-cangkang foraminifera, fragmen-fragmen
karang, cangkang molusca dan bahan lain yang menjadi sumber kapur yang penting
bagi pantai berlumpur.
Struktur
dan komposisi tumbuhan di kawasan pantai berlumpur Indonesia merupakan formasi
hutan mangrove yang didominasi oleh Rhizophora sp., Avicennia sp., Bruguiera
sp., Ceriops tagal., Sonneratia sp., dan Xylocarpus sp (Anonim, 2008).
4. Pantai
berkarang; dikawasan pantai ini terdapat semenanjung dan dinding tebing pantai
yang diselingi antara pantai berlumpur dan berpasir.
5. Pantai
Berawa merupakan daerah yang tergenang air, baik secara permanen ataupun
temporer. Tanah dan air pantai ini memiliki tingkat keasaman yang tinggi. Hutan
berawa umumnya ditumbuhi oleh jenis tumbuhan seperti nipah (Nypa fruticans),
nibung (Oncosperma tigillaria), sagu (Metroxylon sago), medang (Decassia
cassia), jelutung (Dyera sp.), dll (Anonim, 2008).
Substrat
atau sedimen adalah partikel yang diendapkan secara perlahan-lahan. Untuk
wisata pantai akan sangat baik jika suatu pantai merupakan pantai yang berpasir
atau dengan kata lain didominasi oleh substrat pasir, dibandingkan dengan
pantai yang berbatu atau pantai yang didominasi oleh substrat karang. Ukuran
butir sedimen sedang sampai kasar sangat baik untuk kegiatan wisata pantai
dibandingkan ukuran butir sedimen yang sangat halus dan sangat kasar. Dari
hasil pengamatan jenis substrat pula dapat digunakan dalam menentukan jenis
kegiatan wisata apa saja yang dapat dilakukan pada wilayah pantai yang
dijadikan objek wisata.
3.
Lebar
Pantai
Pengukuran
lebar pantai hubungannya dengan kegiatan wisata dimaksudkan untuk mengetahui
seberapa luas wilayah pantai yangdapat digunakan berbagai kegiatan wisata
pantai. Lebar pantai dapat diukur dari akhir vegetasi terakhir di daratn hingga
batas surut terendah.
4.
Kemiringan
Pantai
Pantai adalah bagian dari daratan yang berbatasan dengan laut yang masih
terpengaruh
oleh proses-proses abrasi (pengikisan
oleh air laut), sedimentasi (pengendapan),
dan pasang
surut air
laut. Secara
umum menurut bentuknya pantai dapat
dibedakan
menjadi
empat
macam yaitu pantai datar, landai, curam dan pantai terjal (Yulianda, 2007). Untuk mendapatkan nilai kelandaian maka terlebih dahulu diukur kemiringannya.
Tabel 1. Hubungan antara topografi pantai dengan kemiringan
|
Parameter
|
Nilai sebutan
|
|||
|
Kemiringan (0)
|
<10
|
10-25
|
>25-45
|
>45
|
|
Topografi Pantai
|
Datar
|
Landai
|
Curam
|
Terjal
|
Sumber : Yulianda (2007)
Secara
umum menurut bentuknya pantai dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu pantai
datar, landai, curam dan pantai terjal. Kelandaian pantai cenderung
mempengaruhi keamanan seseorang untuk melakukan kegiatan wisata pantai seperti
mandi dan renang. Pantai datar sampai landai sangat baik untuk kegiatan wisata
renang dimana wisatawan dapat melakukan berbagai kegiatan seperti berenang,
bermai pasir serta dapat bermain-main dengan ombak ditepinya. Hubungannya
dengan pariwisata pantai, pengukuran kelandaian pantai dapat digunakan dalam
penentuan batas aman berenang dengan batas toleransi sampai kedalaman kurang
lebih 1,5 meter.
5.
Pasang
Surut
Kita
mungkin sering mendegar kata pasang surut air laut seperti ketika kita memilih
laut sebagai identitas wisata mungkin
informasi yang di banyak di cari sebelumnya adalah mengenal kondisi dari laut tujuan wisata itu sendiri apakah sedang
dalam kondisi baik maupun tidak. Salah satu kondisi yang menjadi tolah ukur
adalah pasang surut air laut. Apabilah laut sedang pasang maka akan lebih baik
kita tidak memilih laut sebagai tujuan wisata sebaliknya apabila laut sedang
surut mungkin hal itu baik untuk kita memilih wisata laut. Sebenarnya apa sih
yang di maksud dengan kondisi pasang surut air laut
Pasang merupakan
kondisi atau keadaan di mana keadaan merupakan
Pengamatan pasang surut erat
kaitannya dengan faktor oseanografi lainnya seperti kecepatan arus dan
gelombang yang juga dipengaruhi oleh kedalaman, kemiringan dan kelandaian suatu
perairan. Kisaran pasang surut yang tidak terlalu besar baik untuk pengembangan
pariwisata pantai khususnya untuk kegiatan renang.
Fenomena pasang surut diartikan naik turunnya muka laut
secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari
dan bulan terhadap massa air di bumi (Pariwono, 1989). Selain itu, pasang surut
laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut
secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik
menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan
(Dronkers, 1964). Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena
jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi
dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal berasal dari dorongan ke arah luar pusat
rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding
terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya
tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam
membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak
matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan
matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut
gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh
deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan
matahari.
Beberapa teori yang mengkaji tentang
pasang surut air laut antara lain: (1) Eqilibrium Theory, dan
(2) Dynamical Theory. Berikut masing-masing penjelasan teori-teori
tersebut.
6.
Arus
Arus
laut adalah gerakan massa air laut yang berpindah dari satu tempat ke tempat
yang lain. Gerakan ini dapat secara horizontal maupun vertikal yang dapat
menyebabkan sirkulasi air, dengan skala yang kecil dan berukuran besar.
Terjadinya arus di lautan disebabkan
oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
seperti perbedaan densitas air laut, gradien tekanan mendatar dan gesekan
tekanan air. Sedangkan faktor eksternal seperti gaya matahari dan bulan yang
dipengaruhi oleh tahanan dasar laut dan gaya coriolus, perbedaan tekanan udara,
gaya gravitasi, gaya tektonik dan angin.
Pengertian Arus Laut (SeaCurrent) - Arus laut adalah gerakan
massa air laut dari suatu tempat ke tempat yang lain. Gerakan ini secara mendatar
atau horizontal berupa arus permukaan atau arus dasar, dan dapat pula merupakan
gerakan massa air secara vertical dari lapisan air bagian bawah ke lapisan atas
atau sebaliknya. Menurut Gross 1972, arus merupakan gerakan horizontal
atau vertikal dari massa air menuju kestabilan yang terjadi secara terus
menerus. Gerakan yang terjadi merupakan hasil resultan dari berbagai macam gaya
yang bekerja pada permukaan, kolom, dan dasar perairan. Hasil dari gerakan
massa air adalah vector yang mempunyai besaran kecepatan dan arah. Ada dua
jenis gaya yang bekerja yaitu eksternal dan internal Gaya eksternal antara lain
adalah gradien densitas air laut, gradient tekanan mendatar dan gesekan lapisan
air (Gross,1990)
Terjadinya arus di lautan
disebabkan oleh faktor internal seperti perbedaan densitas air laut, gradien
tekanan mendatar dan gesekan lapisan air dan faktor eksternal seperti gaya
tarik matahari dan bulan yang dipengaruhi oleh tahanan dasar laut dan gaya
coriolis, perbedaan tekanan udara, gaya gravitasi, gaya tektonik dan angin (
Gross, 1990).
Menurut Bishop (1984), gaya-gaya
utama yang berperan dalam sirkulasi massa air adalah gaya gradien tekanan, gaya
coriolis, gaya gravitasi, gaya gesekan, dan gaya sentrifugal. Gaya-gaya yang
bekerja dalam pembentukan arus antara lain tegangan angin, gaya Viskositas,gaya
Coriolis, gaya gradien tekanan horizontal, gaya yang menghasilkan pasut. Ketika
angin berhembus di laut, energi ditransfer dari angin ke batas permukaan,
sebagian energi ini digunakan dalam pembentukan gelombang gravitasi permukaan,
yang memberikan pergerakan air dari yang kecil kearah perambatan gelombang
sehingga terbentuklah arus dilaut. Semakin cepat kecepatan angin, semakin besar
gaya gesekan yang bekerja pada permukaan laut, sehingga semakin besar arus
permukaan. Dalam proses gesekan antara angin dengan permukaan laut dapat
menghasilkan gerakan air yaitu pergerakan air laminar dan pergerakan air
turbulen (Supangat,2003).
Pond dan Pickard 1983 mengklasifikasikan gerakan massa
air berdasarkan penyebabnya, terbagi atas :
a.
Gerakan dorongan angina
Angin adalah factor yang
membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin mempunyai kecepatan yang
berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang dibangkitkan oleh angin memiliki
perubahan yang kecil seiring pertambahan kedalaman hingga tidak berpengaruh
sama sekali.
b.
Gerakan termohalin
Perubahan densitas timbul karena
adanya perubahan suhu dan salinitas anatara 2 massa air yang densitasnya
tinggi akan tenggelam dan menyebar dibawah permukaan air sebagai arus dalam dan
sirkulasinya disebut arus termohalin.
c.
Arus Pasut
Arus yang disebabkan oleh gaya tarik
menarik antara bumi dan benda benda angkasa. Arus pasut ini merupakan arus yang
gerakannya horizontal.
d.
Turbulensi
Suatu gerakan yang terjadi pada
lapisan batas air dan terjadi karena adanya gaya gesekan antar lapisan
e.
Tsunami
Sering disebut sebagai gelombang
seismic yang dihasilkan dari pergeseran dasar laut saat etrjadi gempa.
Gelombang lain ; Internal, Kelvin dan
Rossby/Planetary.
Menurut letaknya arus dibedakan
menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak
di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah
permukaan laut. Faktor pembangkit arus permukaan disebabkan oleh adanya angin
yang bertiup diatasnya. Tenaga angin memberikan pengaruh terhadap arus
permukaan (atas) sekitar 2% dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus
ini akan berkurang sesuai dengan makin bertambahnya kedalaman perairan sampai
pada akhirnya angin tidak berpengaruh pada kedalaman 200 meter (Bernawis,2000).
Oleh karena dibangkitkan angin, arah
arus laut permukaan (atas) mengikuti arah angin yang ada. Khususnya di Asia
Tenggara karena arah angin musim sangat terlihat perubahannya antara musim
barat dan musim timur maka arus laut permukaan juga banyak dipengaruhinya. Arus
musim barat ditandai oleh adanya aliran air dari arah utara melalui laut Cina
bagian atas, laut Jawa, dan laut Flores. Adapun pada musim timur sebaliknya
mengalir dari arah selatan.
Selain pergerakan arah arus mendatar, angin dapat
menimbulkan arus air vertikal yang dikenal dengan upwelling dan downwelling di
daerah-daerah tertentu. Proses upwelling adalah suatu proses massa air yang
didorong ke atas dari kedalaman sekitar 100 sampai 200 meter. Angin yang mendorong
lapisan air permukaan mengakibatkan kekosongan di bagian atas, akibatnya air
yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang berada di atas. Oleh
karena air yang dari kedalaman lapisan belum berhubungan dengan atmosfer, maka
kandugan oksigennya rendah dan suhunya lebih dingin dibandingkan dengan suhu
air permukaan lainnya. Walaupun sedikit oksigen, arus ini mengandung larutan
nutrien seperti nitrat dan fosfat sehingga cederung mengandung banyak
fitoplankton. Fitoplankton merupakan bahan dasar rantai makanan di lautan,
dengan demikian di daerah upwelling umumnya kaya ikan.
7. Kedalaman
kedalaman
kegiatan wisata pantai khususnya renag sangat penting untuk mempertimbangkan
kedalaman karena sangan berpengaruh pada aspek keselamatan pada saat berenang.
Secara fisik kedalaman pada perairan dangkal cukup baik untuk di jadikan
sebagai objek rekreasi renang di bidang perairan yang dalam
8.
Arah Angin
Angin
Laut adalah angin yang
bergerak dalam daerah darat dan laut. Angin Laut adalah
jenis angin yang bergerak dari lautan ke daratan, sebaliknya pada malam hari,
daratan lebih dingin daripada
lautan.Saat itu udara bergerak dari daratan ke lautan, peristiwa ini disebut Angin darat Adanya
angin darat dan angin laut ini menyebabkan perubahan garis pantai. Air laut atau ombak yang
dihasilkan angin lama kelamaan akan mengikis pasir atau
batuan pantai.Air
laut membawa pasir atau serpihan batu ke laut.
9.
Gelombang laut
Gelombang laut adalah bentuk permukaan laut yang berupa
punggung atau puncak gelombang dan palung atau lembah gelombang oleh gerak ayun
(oscillatory movement) akibat tiupan angin, erupsi
gunung api, pelongsoran dasar laut, atau lalu lintas kapal (Sunarto, 2003).
Gelombang laut memiliki dimensi yaitu periode gelombang, panjang gelombang,
tinggi gelombang, dan cepat rambat gelombang
Dalam usaha menjelaskan proses tumbuhnya
gelombang di laut, banyak teori dikemukakan para ahli, tetapi hanya ada dua
teori yang saling melengkapi dan dapat menjelaskan pertumbuhan gelombang di
lautan.
1. Teori yang pertama dikemukakan oleh
Phillips (1957), menyatakan bahwa: Turbulensi dalam angin menyebabkan fluktuasi
acak permukaan laut yang menghasilkan gelombang-gelombang kecil-kecil (riak)
dengan panjang gelombang beberapa sentimeter. Gelombang-gelombang kecil-kecil
ini kemudian tumbuh secara linear melalui proses resonansi dengan
fluktuasi tekanan turbulensi.
2.
Teori
yang kedua dikemukakan oleh Miles (1957), dan dikenal dengan teori
ketidakstabilan atau mekanisme arus balik (feed-back Mechanisme),
menyatakan bahwa: Ketika ukuran gelombang-gelombang kecil yang sedang tumbuh
mulai mengganggu aliran udara di atasnya, angin yang bertiup memberikan tekanan
yang semakin kuat seiring dengan meningkatnya ukuran gelombang, sehingga
gelombang tumbuh menjadi besar. Proses pemindahan energi ini berlangsung secara
tak stabil, semakin besar ukuran gelombang semakin cepat gelombangnya.
Ketidakstabilan menyebabkan gelombang tumbuh secara eksponensial.
Seiring dengan
proses pertumbuhannya, gelombang-gelombang yang sedang tumbuh yang beragam
energi dan frekuensinya saling berinteraksi untuk menghasilkan gelombang yang
lebih panjang. Interaksi yang terjadi melibatkan proses pemindahan energi
secara tak linear dari gelombang-gelombang frekuensi tinggi ke gelombang yang
frekuensinya yang lebih rendah. Teori tentang interaksi tak linear dikemukan
oleh Hasselmann (1961; 1963), dan Hasselmann, et al., 1973. Proses transfer
energi ini menyebabkan gelombang-gelombang periode panjang mempunyai energi
yang lebih tinggi. Jika periode gelombang cukup panjang, cepat rambat gelombang
dapat melebihi kecepatan angin pembentuknya, sehingga gelombang dapat keluar
dari daerah pertumbuhannya.
Bentuk dari sebuah gelombang menunjukkan
gerakan partikel-partikel air yang ada di dalam gelombang. Walaupun gelombang
bergerak makin maju ke depan, partikel-partikel di dalam gelombang akan
meninggalkan jejak yang membentuk lingkaran. Jejak lingkaran yang dibuat oleh
partikel-partikel akan menjadi lebih kecil sesuai dengan makin besarnya
kedalaman di bawah permukaan gelombang.
|
Bentuk
& Bagian-bagian Gelombang
|
|
|
Gelombang yang terbentuk di daerah
pertumbuhannya disebut ”Sea” dan gelombang
yang telah atau dapat keluar dari daerah pertumbuhannya disebut ”swell”. Di daerah pertumbuhannya, gelombang mempunyai
variasi frekuensi, ukuran, dan arah rambat yang beragam, sehingga permukaan
laut tampak tidak teratur. Variasi ukuran dan frekuensi swell terbatas pada gelombang frekuensi rendah
yang saling berdekatan, sehingga perambatan gelombang teratur dan nampak jelas
di permukaan laut.
Penjelasan tentang proses tumbuhnya gelombang menunjukkan
bahwa gelombang-gelombang pendek tumbuh dengan sangat cepat, jauh lebih cepat
daripada gelombang-gelombang yang lebih panjang. Ini berarti bahwa gelombang
pendek mendapat suplai energi yang lebih besar dari angin daripada gelombang
panjang.
Klasifikasi gelombang berdasarkan ukuran dan penyebabnya
(Pond and Pickard, 1983):
1.
Riak
(ripples) / gelombang kapiler (capillarywave) dengan panjang gelombang 1,7 meter dan
periode kurang dari 0,2 detik disebabkan oleh adanya tegangan permukaan dan
tiupan angin yang tidak terlalu kuat pada permukaan laut.
2.
Gelombang
angin (seas/wind waves) dengan panjang gelombang sampai
kira-kira 130 meter dan periode 0,2- 0,9 detik ditimbulkan angin.
3.
Alun
(swell) dengan panjang gelombang sampai ratusan meter
dan periode 0,9-15 detik ditimbulkan oleh angin yang bertiup lama.
4.
Gelombang
pasang surut (tidal wave) dengan panjang gelombang beberapa kilometer
dengan periode 5 jam,12 jam, dan 25 jam oleh fluktuasi gaya gravitasi Matahari
dan Bulan.
BAB III
METODE PRAKTEK
Metode
yang di lakukan adalah metode survey yang merupakan suatu metode dalam mengkaji
objek melalui observasi secara langsung di lapangan. Analisis yang di gunakan
adalah analisis kualitatif berdasarkan parameter yang diamati
1.1.Bahan dan Alat Pratikum
Bahan dan
alat pratikum yang di gunakan sebagai berikut :
|
Alat atau
bahan
|
Kegunaannya
|
|
1.
GPS
2.
Rol Meter
3.
Kamera
4.
Azimuth
5.
Tali
nilon
6.
Biola
plastic
7.
Kantong
plastik
8.
Bambu
9.
Buku dan
pena
|
Marek garmin untuk menentuka kordinat geografis dan
ketinggian tempat dari permukaan laut
Untuk mengukur pantai yang mengalami pengikisan
/abrasi
Untuk mengambil gambar di lapangan yang sesuai
tujuan pratikum
Untuk mengukur kemiringan lereng suatu tempat
Untuk mengukur kecepatan arus
Untuk mengukur kecepatan arus
Untuk mengetahui arang angin
Untuk pancang di masing-masing titik sebanyak lima
titik
Untuk menulis datang yang akan di ambil
|
1.2.Waktu dan Tempat
Praktikum
Praktikum dilaksanakan
pada hari saptu pada tanggal 28 April 2018. Waktu 09:00 WIT. Lokasi penelitian berada di kelurahan pantai Kastela.
1.3.
Tahapan Pratikum
Pengambilan
sampel dalam praktek di lakukan sesuai dengan maksud dan tujuan praktek sebagai
berikut :
1. Pengambilan sampel di lakukan di areal yang di
kategorikan sebagai sumber pengikisan akibat gelombang dan arus laut serta
pengendapan akibat banjir sungai
2. Pada masing-masing titik pengambilan sampel di
tentukan berdasarkan jarak titik pertama 30 meter, titik kedua 30 meter, titik
ke tiga 30 meter, titik ke empat 30 meter, titik ke lima 30 meter (arah
vartikel
3. Selanjutnya melakukan wawancara terhadap masyarakat
setempat untuk mengetahui seberapa luas abrasi pantai selama lima tahun
terakhir.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
|
No
|
Indikator
pengukuran bentuk lahan pantai
|
||
|
1
|
Indikator
|
Data
pengukuran pertama
|
Data
pengukuran kedua
|
|
Patok
pertama
|
-
jarak dari garis pantai
-
jarak antar patok
-
lebar pesisr ke garis pantai
-
kemiringan pantai
-
Kecepatan arus laut
-
Arah angin
-
Kedalaman
-
Tinggi gelombang
-
Titik kordinat :
· Bujur
· Lintang
|
100 meter
30 meter
23 meter
2,300
2 menit 13 detik /
2,5 meter
Barat laut
25 Cm
27 Cm
N :000,
49,2540
E : 1270,
15, 146
|
100 meter
30 meter
30 meter
2,300
12 detik / 2,5 meter
Timur
80 Cm
1 meter
N :000,
49,2540
E
: 1270, 15, 146
|
|
2
|
Indikator
|
Data
pengukuran pertama
|
Data
pengukuran kedua
|
|
Patok
kedua
|
-
jarak dari garis pantai
-
lebar pesisr ke garis pantai
-
kemiringan pantai
-
jarak antar patok
-
Kecepatan arus laut
-
Arah angin
-
Kedalaman
-
Tinggi gelombang
-
Titik kordinat :
· Bujur
· Lintang
|
100 meter
23 meter
2,300
30 meter
1 menit 6 detik / 2,5
meter
Barat laut
21 Cm
23 Cm
N :000,
54,6720
E : 1270,
18, 301
|
100 meter
30 meter
2,300
30 meter
23 detik / 2,5 meter
Timur
87 Cm
1,30 meter
N :000,
54,6720
E
: 1270, 18, 301
|
|
3
|
Indikator
|
Data
pengukuran pertama
|
Data
pengukuran kedua
|
|
Patok
ketiga
|
-
jarak dari garis pantai
-
lebar pesisr ke garis pantai
-
kemiringan pantai
-
jarak antar patok
-
Kecepatan arus laut
-
Arah angin
-
Kedalaman
-
Tinggi gelombang
-
Titik kordinat :
· Bujur
· Lintang
|
100 meter
23 meter
2,300
30 meter
1 menit 36 detik/ 2,5
meter
Barat laut
15 Cm
20 Cm
N :000,
56,9760
E
: 1270, 17, 790
|
100 meter
30 meter
2,300
30 meter
15 detik / 2,5 meter
Timur
78 Cm
98 Cm
N :000,
56,9760
E
: 1270, 17, 790
|
|
4
|
Indikator
|
Data
pengukuran pertama
|
Data
pengukuran kedua
|
|
Patok
ke empat
|
-
jarak dari garis pantai
-
lebar pesisr ke garis pantai
-
kemiringan pantai
-
jarak antar patok
-
Kecepatan arus laut
-
Arah angin
-
Kedalaman
-
Tinggi gelombang
-
Titik kordinat :
· Bujur
· Lintang
|
100 meter
23 meter
2,300
30 meter
1 menit 14 detik /
2,5 meter
Utara
20 Cm
24 Cm
N :000,
52,9640
E : 1270,
17, 780
|
100 meter
30 meter
2,300
30 meter
23 detik / 2,5 meter
Timur
85 Cm
1,5 meter
N :000,
52,9640
E
: 1270, 17, 780
|
|
5
|
Indikator
|
Data
pengukuran pertama
|
Data
pengukuran kedua
|
|
Patok
ke lima
|
-
jarak dari garis pantai
-
lebar pesisr ke garis pantai
-
kemiringan pantai
-
jarak antar patok
-
Kecepatan arus laut
-
Arah angin
-
Kedalaman
-
Tinggi gelombang
-
Titik kordinat :
· Bujur
· Lintang
|
100 meter
23 meter
2,300
30 meter
1 mentit 4 detik /
2,5 meter
Utara
20 Cm
27 Cm
N :000,
49,9970
E : 1270,
16, 730
|
100 meter
30 meter
2,300
30 meter
15 detik / 2,5 meter
Timur
90 Cm
1 meter
N :000,
49,9970
E
: 1270, 16, 730
|
B. PEMBAHASAN
Pretikum
dilakukan pada waktu pagi dan sore sehinggakami dapa memastika karakteristik
pantai tersebut. Untuk itu kami dapat melakukan pratikum dengan hasil indicator
sebagai berikut: kecepatan arus, kedalam, arah angina, tinggi gelombang,
kemiringan pantai, pasang surut air laut.
Berikut
ini dua pokok pembahasan yang kami lakukan pada saat di lapangan yaitu :
Ø Faktor apa saja yang mengakibatkan
terjadinya abrasi pantai Kastela
1. Faktor
alam.
Fenomena
alam yang menyebabkan erosi pantai kastela yakni
pasang surut air laut dan juga tiupan angin laut yang menghasilkan
gelombang serta arus laut yang kuat sehingga dapat membawa partikel-partikel batuan ke
dasar laut. Pengaruh gelombang juga dapat menghantam karang-karang yang ada di pantai Kastelah
2. Penurunan
permukaan tanah.
Kelurahan Kastela merupakan daerah yang memiliki
krisis ari. Sehinggga warga tersebut membuat sumur untuk mengambil air tanan. Pengambilan air tanah yang berlebihan
mengakibatkan turunnya permukaan tanah sehingga daratan menjadi lebih rendah
dari lautan. Hal ini tentu meningkatkan resiko terjadinya banjir rob akibat
meluapnya air laut ke daratan.
3. Kerusakan
hutan mangrove.
Warga Masyarakat Kelurahan Kastelahyang
bertempat di pesisir pantai
menebang hutan mangrove untuk dijadikan pertambakan. Selain itu, kayu- kayu
dari pohon mangrove juga dijual dan dijadikan pondasi bangunan. Kegiatan
tersebut sangat mengganggu regenerasi dan menghambat proses suksesi hutan
mangrove. Hal ini juga menyebabkan terjadi abrasi, dan hilangnya beberapa
ekosistem pulau.
4. Kerusakan
akibat kegiatan manusia.
Aktivitas
manusia yang menjadi penyebab erosi pantai yaitu dalam bentuk penambangan
pasir, pencemaran sampah anorganik dan penambangan terumbu karang.
5. Perubahan
iklim global atau yang sering disebut dengan pemanasan global.
Meningkatnya
suhu bumi menyebabkan mencairnya es di kutub. Ketika es di kutub mencair secara
signifikan maka akan menyebabkan naiknya permukaan air laut sehingga akan
menggerus daratan yang rendah seperti pantai
Ø Seberapa besar perubahan garis
pantai yang ada di kelurahan Kastela selama lima tahun terakhir dari tahun 2014
– 2018
Kelurahan Kastela merupakan salah satu
Kelurahan yang memiliki pesisir pantai yang panjang dengan berdiameter kurang
lebih 200 meter. Sedangkan lebar garis pantai berkisar 10-20 meter namun hal
tersebut dapat berkurang di karenakan adanya kelombang air laut dan pasang
surut.
Perubahan garis pantai kastela pada lima
tahun terakhir mengalami perubahan kata penduduk setempat (Ibu Mariana Kodogo,04.2018) mengatakan bahwa perubahan garis
pantai kastela pada tahun 2014-2018 perna mengalami pengikisan pantai atau
abrasi. Dan pernah terjadi air laut naik sampai ke rumah warga karena di
sebabkan air laut pasang dan di ikuti oleh gelombang. Pada lima tahun terakhir
tersebut warga kelurahan Kastela telah melakukan salah satu program yaitu
menanam pohon bakau di sepanjang pantai. Dan mereka beranggapan bahwa adanya
pohon bakau dapat menahan abrasi atau pengikusan air lau. namun Diiringi
Berjalannya wakktu pohon bakau tersebut mengalami kerusakan karena tidak ada
pengontrolan dari pihak keamanan atau warga setempat.
Adapun menurut salah satu warga (Barsi ,04,2018) mengatakan pada lima
tahun terakhir ini perna terjadi perubahan garis pantai atau disebut dengan
abrasi pantai. Karena tidak tersedianya penyangga pohon di pesisir pantai
sehingga air pun naik dan hampir masuk ke perumahan warga yang ada di sekitar
pantai.
BAB V
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Geologi
pantai merupakn suatu kajian tentang bentuk lahan pantai, evolusinya
proses-roses yang bekerja padanya dan perubahan-perubahan yang terjadi pada
saat tertentu.
Adapin
beberapa faktor yang dapat terjadinya abrasi atau pengikisan
1.
Faktor alam
2.
Penurunan permukaan tanah
3.
Kerusakan hutan manggrov
4.
Karusakan akibat ulah
manusia
5.
Perubahan
iklim global atau yang sering disebut dengan pemanasan global.
b.
Saran
Akhirnya
kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan untuk itu kami mengharapkan saran dan kritiknya yang bersifat
membangun dari dosen pembimbing dan teman-teman agar penulisan laporan ini
kedepannya lebih baik. Semoga laporan
ini dapat bermanfaat bagi kita
DAFTAR PUSTAKA
Sukri Indi
2018 karakteristi betuk lahan pantai dan abrasi pantai kelurahan kastelah kota
ternate vol 1. No 28 Apri 2018,
Solihuddin, Tb.2011.Karakteristik Pantai dan
Proses Abrasi di Pesisis Padang Pariaman Sumatera Barat.Jakarta: Globë Volume 13 No 2 Desember : 112 – 120.
Yudhicara.2008. Kaitan antara karakteristik pantai Provinsi Sumatera
Barat dengan potensi kerawanan tsunami.Bandung: Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 3 No. 2 Juni 2008:
95-106.
Hidayat, Rahmad.2014. Upaya Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam
Penanggulangan Abrasi.Pekan Baru:Jom
FISIP Volume 1 No. 2 – Oktober 2014
http://hareraanggi.blogspot.co.id/2013/12/contoh-makalah-tentang-abrasi-pantai.html ( diakses pada 26 desember 2017 )
Dokumentasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar