Selasa, 30 Juli 2019

pola kehidupan masyarakat nelayan tradisional desa wayatim


A.      Gambaran Umum Desa Wayatim   
1.      Letak Geografis Desa Wayatim
Desa Wayatim secara Georafis Terletak diantara 00 44’36.46”  Lintang Utara sampai dengan 00 44’44.96” Lintang Selatan  dan  1270 52’ 27.51” Bujur Timur  sampai dengan 1270 52’ 21.30” Bujur Timur
2.      Kondisi Administrasi Desa Wayatim
Secara administrasi Desa Wayatim terletak di Kabupaten Halmahera Selatan dengan jarak dari Desa Wayatim Kekecamatan Bacan Timur Tengan 16,9 kilometer sedangkan dari Desa Wayatim ke pusat kota 25,9 kilometer (Geogle Erth). Desa Wayatim yang terletak di Kecamatan Bacan Timur Tengan terdiri atas 2 RT. Adapun batas-batas administrasi Desa Wayatim tersebut.
1.    Sebelah Selatan berbatasan dengan    : Desa Pigaraja
2.    Sebelah Barat berbatasan dengan       : Gunung
3.    Sebelah Utara berbatasan dengan       : Desa Tomara
4.    Sebelah Timur berbatasan dengan       : Laut Halmahera
3.      Kondisi Demografi
1.    Keadaan Penduduk
Kondisi demografi suatu wilayah memiliki keterkaitan dengan beberapa unsur kependudukan, antara lain adalah mengenai dengan jumlah penduduk dan komposisi penduduk. Berdasarkan data demografi Desa Wayatim pada tahun 2016 secara keseluruhan jumlah penduduk di Desa Wayatim berjumlah 142  jiwa. Terdiri dari 62  laki-laki orang dan perempuan 80 orang, dengan jumlah KK (Kepala Keluarga) sebanyak 52 KK.
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Desa Wayatim
Rata-Rata Jumlah Penduduk Desa Wayatim
W
N
I
Laki-Laki
62
Perempuan
80
Jumlah Total
142
Sumber: Data Pemerintah Desa Wayatim, 2016

2.      Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Mata pecaharian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sangatlah penting, karena dengan adanya mata pencaharian tersebut maka kehidupan ekonomi masyarakat akan terpenuhi. Komposisi penduduk menurut mata pencaharian Desa Wayatim dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian
No
Mata pencarian
Jumlah /jiwa
Persentase (%)
1.
Petani
52
48 %
2.
PNS
2
2 %
3.
Nelayan
50
46 %
4.
Buruh bangunan
1
1 %
5.
Wirausaha
4
3 %
Jumlah
118
100 %
Sumber: Data Pemerintah Desa Wayatim, 2016

Dilihat pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa jenis mata pencaharian penduduk Desa Wayatim yang tertinggi adalah pada petani dan yang terendah adalah buruh bangunan. Hal ini dilihat pada masyarakat Desa Wayatim yang bermata pencaharian dengan persentase 48% atau 52 orang, masyarakat yang bermata pencaharian sebagai PNS dengan persentase 2% atau 2 orang, masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan dengan persentase 46 % atau 50 orang, masyarakat yang bermata pencaharian sebagai buruh bangunan dengan persentase 1% atau 1 orang dan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai wirausaha 3% atau sebanyak 3 orang.
B.       Karakteristik Responden
Karakteristik responden digunakan untuk memberikan gambaran  responden, apakah dengan karakteristik responden yang berbeda-beda  beranggapan sama ataukah tidak. Dalam penelitian ini ditunjau dari  karakteristik pendidikan dan umur tersebut.
1.      Karakteristik Responden Menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan yang dimaksud pada penelitian ini adalah pendidikan formal yang telah ditempuh oleh nelayan. Pendidikan formal juga merupakan hal  yang dapat mempengaruhi pendapatan nelayan, dimana semakin tinggi tingkat  pendidikan yang ditempuh, akan memungkinkan nelayan untuk lebih mudah serta  membuat inovasi dalam meningkatkan hasil produksi .Pendidikan berperan dalam membentuk sikap dan mengorganisir pemikiran serta memperkirakan masa depan. (Soekartawi, 1996) Kemiskinan yang terjadi dikalangan nelayan juga disebabkan oleh karena kurangnya pendidikan, skill dan pengalaman. Untuk itu dapat dilihat pada diagram di bawah ini karakteristik pendidikan terakhir responden


                                                                                               

Gambar  4.1 Diagram Ditribusi Menurut Tingkat Pendidikan
Dapat dilihat pada diagram di atas bahwa pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kehidupan bangsa dan negara. Namun hal tersebut dapat dilihat pada diagram bahwa pendidikan yang dialami oleh masyarakat Desa Wayatim itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan UUD 1945 alinea keempat. Oleh sebab itu masyarakat yang tamat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 26 responden dengan persentase  44% karena disebabkan kebutuhan ekonomi yang kurang. Dan yang tamat Sekolah Menengah Pertama(SMP) itu sebanyak 15 responden dengan persentase 26% sedangkan yang tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 9 responden dengan persentase 15% .Faktor pendidikan juga dapat mempengaruhi aktivitas masyarakat nelayan karena dengan pemahaman yang terbatas sehingga kurang mengetahui untuk mendapatkan hasil tangkapan yang banyak.
2.      Karakteristik Umur  Responden
Umur nelayan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya pendapatan nelayan. Apabila umur nelayan masih berada pada usia  produktif, tentunya akan mempengaruhi hasil produksi dan kemudian berlanjut  pada pendapatan yang maksimal begitu pula sebaliknya. Karakteristik tingkat  umur nelayan di Desa  Wayatim  dapat dilihat pada gambar  4.2.





Gambar  4.2 Diagram Distribusi Menurut Umur
Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Wayatim Kecamatan Bacan Timur Tengan Kabupaten Halmahera Selatan. Yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki umur antara 20 sampai dengan 65 tahun. Hal ini dapat dilihat pada responden dengan umur 20-30 tahun dengan persentase 18% atau sebanyak 8 orang, responden dengan umur 31 – 40 tahun dengan persentase 28% atau sebanyak 14 responden, responden dengan umur 41 – 50 tahun sebanyak 15 orang dengan persentase  30%, responden dengan umur 51 – 60 tahun sebanyak 10 orang dengan persentase 20% dan responden dengan umur 61 – 65 tahun sebanyak 2 orang dengan persentase 4%. Hal tersebut dapat dilihat bahwa karakteristik umur sangatlah penting dalam melakukan aktivitas sebagai nelayan tradisional.
C.      Pola Kehidupan Masyarakat Nelayan Tradisional Di Desa Wayatim.
Pola kehidupan masyarakat nelayan tradisional Desa Wayatim merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan yang pertama taraf kehidupan masyarakat nelayan tradisional kedua interaksi sosial antar nelayan.
1.      Kehidupan Masyarakat Nelayan Desa Wayatim
Kehidupan masyarakat Desa Wayatim walaupun didasari dengan nelayan yang tradisional mereka sudah memenuhi keperluan keluarga seperti membeli sembako, barang-barang moderen juga sudah dimiliki para nelayan. Nelayan sudah memiliki alat rumah tangga seperti televisi, radio, handphone, kursi tamu dan peralatan lainnya. Kehidupan masyarakat Desa Wayatim bukan hanya berprofesi sebagai nelayan tradisional akan tapi dengan pekerjaan sampingan seperti petani, buruh banguan, dan wirausaha sehingga bisa menunjang kebutuhan ekonomi mereka.  Dengan adanya alat rumah tangga yang modern tersebut, para nelayan sangat terbantu dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.  
2.      Interaksi Sosial Antar Nelayan Desa Wayatim
Interaksi sosial antara nelayan yang ada di Desa Wayatim terbentuk secara alamih dari satu kesatuan sesuai dengan  kedudukannya. Kesamaan identitas timbul karena adanya perasaan senasib sepenanggungan dan persamaan kedudukan dalam status pekerjaan. Selain itu juga di kalangan para nelayan Desa Wayatim tercipta relasi yang baik sesama mereka karena bekerja dalam satu pekerjaan yang sama dan memiliki jam kerja yang sama, tempat kerja dengan hasil yang sama. Sehingga relasi mereka tetap akrab, kompak dan saling bekerja sama dengan yang  lain. 
Adanya aktivitas tolong menolong masyarakat dengan yang lainnya terlihat pada acara seperti perkawinan atau suka cita, baik dari keluarga nelayan maupun dari keluarga tetangga setempat. Biasanya mereka akan saling mengundang, dan saling membantu tanpa harus diminta oleh pihak yang bersangkutan. Seperti itu juga halnya jika menghadapi musibah maka tanpa diminta, mereka datang memberikan bantuan baik berupa tenaga maupun materi. Mereka memberikan sumbangan secara sukarela tanpa adanya unsur paksaan.

Adapun hal pokok lain yang harus diperhatikan pada masyarakat nelayan tradisional Desa Wayatim seperti status rumah,  jumlah anggota keluarga, pengalaman berprofesi sebagai nelayan,  pekerjaan sampingan, jenis armada yang digunakan, kecukupan dalam satu keluarga, dijual atau tidak, berpa kali dalam seminggu, peralatan yang digunakan dan berapa kilogram dalam satu perahu atau dalam satu kali melaut. Untuk itu dapat dilihat pada tabel dibawa ini.
Tabel 4.3 Distribusi Responden Menurut Status Rumah
Status Rumah
Jumlah
Responden
Persentase (%)
Milik pribadi
39
78%
Warisan orang tua
11
22%
Menyewa
0
0%
Menumpang pada orang tua
0
0%
      Sumber: Data Penelitian, 2019
 




Gambar  4.3 Diagram Distribusi Responden Menurut Status Rumah


Berdasarkan hasil yang diteliti, bahwa masyarakat Desa Wayatim merupakan salah satu Desa yang masyarakatnya dengan persentase 78 % responden dalam   hal ini memiliki status rumah milik pribadi. Karena pada tahun 2010 masyarakat telah memnerima bantuan dari pemerintah pusat. Dengan memberikan dana kepada masyarakat yang kurang mampuh sebesar 10 juta rupiah. Sehingga sebagian besar masyarakat yang memiliki rumah pribadi. Dapat dilihat pada diagram tersebut, bahwa ada 22% responden yang masih mewarisi rumah milik orangnya tua mereka.
Tabel 4.4 Distribusi Responden Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah
Responden
 Persentase (%)
1 – 3 orang
17
37 %
4 – 5 orang
20
43%
6 – 7 orang
3
7%
>8 orng
6
13%
Sumber: Data Penelitian, 2019




Gambar 4.4 Diagram  Distribusi Responden Jumlah Anggota Keluarga
Penduduk merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Jumlah anggota dalam keluarga yang banyak maka akan minimnya kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan pokok sehari-hari. Untuk itu dapat dilihat pada diagram di atas menunukkan bahwa persentase 37%  responden Desa Wayatim dengan jumlah anggota keluarga 3 orang. Namun ada angka lebih besar dalam satu rumah tangga yaitu 4-5 orang dalam satu kelurga atau persentase 43% responden Desa Wayatim. Dan persentase 7% responden Desa Wayatim yang memiliki dalam satu rumah tangga 6-7 orang. Sedangkan dengan persentase 13% merupakan jumlah keluarga atau dalam satu rumah tangga mereka itu sebanyak 8-10 anggota keluarga. Dengan jumlah ini merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Apabila jumlah anggota yang bayank dapat mempengaruhi hasil nelayan dan apabila jumlah keluarga yang kecil dapat memenuhi kebutuhan menurut pendapat Abu Ahmadi (2002) manyatakan  bahwa:
a.       Suatu keluarga dinyatakan besar apabila dalam keluarga terdiri dari suami,  istri dan > 3 orang anak.
b.       Suatu keluarga dinyatakan kecil apabila dalam keluarga terdiri atas suami,  istri dan ≤ 3 orang anak.
Jumlah anggota keluarga yang besar menyebabkan pemenuhan kebutuhan keluarga semakin besar pula yang akan berpengaruh terhadap besar kecilnya beban tanggungan kepala rumah tangga.  Jadi tanggungan nelayan dalam penelitian ini dapat diartikan orang yang menjadi  tanggungan nelayan termasuk istri, anak, orang tua, mertua, saudara ipar,  keponakan atau pun keluarga lain yang masih ada hubungan keluarga.
Tabel 4.5 Distribusi Responden Menurut Pengalaman Nelayan
Pengalaman Nelayan
Jumlah
Responden
Persentase (%)
5 – 10 tahun
31
62%
11 – 15 tahun
14
28%
16 – 19 tahun
3
6%
>20 tahun
2
4%
Sumber: Data Penelitian, 2019
Gambar  4.5 Diagram Distribusi Responden Menurut Pengalaman Nelayan

Nelayan merupakan salah satu aktivsitas pokok masyarakat Desa Wayatim bahkan seluruh bangsa Indonesia yang bertempat tinggal dipesisir pantai. Karena merupakan salah satu kebutuhan pokok mesyarakat Indonesia lebih khususnya lagi di Desa Wayatim. Sehingga masyarakat tersebut harus melakukan aktivitas sebagai nelayan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Wayatim yang berprofesi sebagai nelayan sudah bertahun-tahun yang melakukan aktivitas sebagai nelayan. Dapat dilihat pada diagram tersebut, bahwa persentase 62%  atau 31 responden yang sudah lama berprofesi sebagai nelayan yaitu 5-10 tahun. Dan 11-15 tahun lamanya responden yang beraktivitas sebagai nelayan  atau sebanyak 14 responden dengan persentase 28%  Desa Wayatim yang berprofesi sebagai nelayan. Dan juga persentase 6% presponden atau sebanyak 3 responden yang sudah lama berprofesi sebagai nelayan atau suda 16-19 tahun. Adapun 4% responden yang lebih dari 20 tahun berprofesi sebagai nelayan. Ini adalah orang-orang yang sudah lama berdomisilah di Desa Wayatim. Dengan pengalaman yang dilakukan pada responden maka akan dengan gampang untuk mengenal tempat ikan.  (Kusnadi, 2000). Dengan mengenali nama-nama daerah ikan, maka nelayan akan lebih memudahkan menemukan daerah objek penangkapan.
Tabel 4.6 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Sampingan
Pekerjaan Sampingan
Jumlah
Responden
Persentase (%)
Tani
46
90%
Wirausaha
4
8%
Tidak ada
0
0%
Buruh banguanan
1
2%
Sumber: Data Penelitian, 2019                                                                           
 






Gambar 4.6 Diagram Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Sampingan


Responden Desa Wayatim yang beraktivitas sebagai nelayan tidak melukapan aktivitas yang lain selain nelayan. Hal ini juga dapat dilihat di atas bahwa sebagian besar atau persentase 90% responden yang berprofesi sebagai petani untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Dan 8% atau sebagian responden yang berwirausaha berupa kios, memiliki kendaraan laut dan membeli ikan dari hasil tangkapan para nelayan. Dan juga persentase 2% responden  meliliki pekerjaan sampingan yaitu buruh bangunan.  Pekerjaan sampingan dalam penelitian ini ialah pekerjaan yang dilakukan nelayan selain menangkap ikan di laut ketika sedang tidak musim ikan di laut. Menurut  Kusnadi (2009) mengatakan bahwa penciptaan sumber pendapatan melalui mata pencaharian alternatif merupakan kebutuhan mendesak untuk menjawab kelangsungan hidup rumah tangga nelayan.  Beradsarkan pendapat Kusnadi di atas bahwa dengan pekerjaan alternatif atau pekerjaan sampingan, nelayan dapat melangsungkan hidup dan memenuhi  kebutuhan rumah tangganya tanpa bergantung pada kegitan melaut saja di daerah tersebut.
Tabel 4.7 Distribusi Responden Menurut Jenis Armada Yang Di Gunakan
Jenis Armada
Jumlah
Responden
Persentasi  (%)
Perahu
38
76 %
Ketinting
12
24%
Motor laut
0
0%
Kapal laut
0
0%
Sumber: Data Penelitian, 2019



Gambar 4.7 Diagram Distribusi Responden Menurut Jenis Armada Yang Di Gunakan

Kebutuhan adalah hal yang sangat penting untuk digunakan dalam hal ini membantu atau mengurangi beban yang kita hadapi. Untuk itu masyarakat Desa Wayatim merupakan  salah satu desa yang bermata pencarian atau berprofesi sebagai nelayan. Hal ini dilihat pada diagram di atas, bahwa kebutuhan armada yang digunakan oleh responden setempat adalah persentase 76% atau 38 responden  masih menggunakan perahu untuk melakukan aktivitas sebagai nelayan. Dan diantara persentase 24% atau 24  responden Desa Wayatim sudah  menggunakan ketiting. Mereka belum menggunakan motor dan kapal laut  yang harus mencari ikan dilaut.
Tabel 4.8  Distribusi Responden Menurut Hasil Tangkapan
Hasil Tangkapan
Jumlah
Responden
Persentase  (%)
Sangat cukup
7
14%
Cukup
36
72%
Kurang cukup
4
8%
Tidak cukup
3
6%
Sumber: Data Penelitian, 2019




Gambar 4.8 Diagram Distribusi Responden Menurut Hasil Tangkapan

Mayarakat Desa Wayatim banyak yang melakukan aktivitas sebagai nelayan. Karena ikan merupakan salah satu kebutuhan pokok pada manusia yang harus dikonsumsi. Dari hasil tersebut dengan persentase 72% atau 36 responden yang melakukan aktivitas sebagai nelayan meresa cukup dalam hal ini dari hasil tangkapan ikan di laut. Dan 14 % atau 7 responden yang mengatakan sangat cukup dalam satu keluarga dari hasil nelayan tersebut. Sedangkan persentase 8% atau 4 orang mengatakan masih kurang dari hasil tangkapan ikan dalam satu keluarga  dan persentase 6%  atau 3 responden Desa Wayatim mengatakatan tidak cukup dari hasil tangkapan ikan dilaut.


Tabel 4.9 Distribusi Responden Menurut Dapat Dijual Atau Tidak
Dijual Atau Tidak
Jumlah
Responden
Persentase (%)
Jual
21
42%
Tidak dijual
29
58%
Dibuang
0
0%
Sumber: Data Penelitian, 2019




Gambar 4.9 Diagram Distribusi Responden Menurut Dapat Dijual Atau Tidak

Berdasarkan dari hasil diagram di atas, bahwa subjek yang berprofesi sebagai nelayan. Kadang  mendapatkan  hasil yang banyak dalam melakukan penangkapan ikan disaat turun melaut. Dengan hasil tangkapan yang banyak dapat dikonsumsi dan dijual kepada pihak membeli ikan untuk diekspor keluar daerah. Dari hasil tangkapan yang banyak dengan persentase 42% atau 21 responden  menjul ikan dari hasil nelayan mereka. Sedangkan dengan persentase 58% atau 29 responden yang mengkonsumsi, memberikan kepada tetangga, bahkan keluarga dalam Desa maupun diluar Desa atau Desa tetangga.



Tabel 4.10 Distribusi Responden Menurut Nelayan Dalam Seminggu
Dalam Seminggu
Jumlah
Responden
Persentase  (%)
2 kali seminggu
20
40%
3 kali seminggu
28
56%
5 kali seminggu
2
4%
7 kali seminggu
0
0%
Sumber: Data Penelitian, 2019





Gambar 4.10 Diagram  Distribusi Responden Menurut Nelayan Dalam Seminggu


Masyarakat Desa Wayatim yang melakukan aktivitas sebagai nelayan dalam seminggu. Untuk itu dapat diketahui dari hasil tabel di atas 4.10. Bahwa berapa banyak responden yang melakukan aktivitas sebagai nelayan dalam seminggu yaitu dengan persentase 40% atau 20 responden yang melakukan penangkapan dalam seminggu 2 kali yang mekukakan aktivitas sebagai nelayan. Dan 56% responden  melakukan aktivitas sebagai nelayan 3 kali dalam seminggu. Bahkan dalam seminggu ada yang melakukan aktivitas nelayan 5 kali dalam seminggu yaitu dengan persentase  4% atau sebagian kecil masyarakat Desa Wayatim. 


Tabel 4.11 Distribusi Responden Menurut Mengetahui disaat ikan lagi makan
Mengetahui Disaat Ikan Lagi Makan
Jumlah
Responden
Persentase (%)
Mengetahui
0
0%
Tidak mengetahui
50
100%
Sumber: Data Penelitian, 2019



Gambar 4.11 Diagram Distribusi Responden Menurut Mengetahui disaat ikan lagi makan


Setelah ditinjau dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama waktu tertentu. Bahwa responden yang beraktivitas sebagai nelayan tidak mengetahui dibulan apa ikan makan. Sesuai dengan tabel dan diagram di atas bahwa 50 responden atau dengan persentase 100% yang tidak mengetahui.
D.      Faktor yang mempengaruhi masyarakat nelayan tradisional di Desa Wayatim
Adapun faktor penyebab yang dapat mempengaruhi hasil pendapatan respondan yang melakukan aktivitas sebagai nelayan. Faktor peyebab yang dapat diketahui sebagai berikut.
1.      Peralatan yang digunakan pada saat melaut.
Desa Wayatim adalah salah satu desa yang terletak dipesisir pantai. Untuk itu dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang memiliki alat tangkap yang sederhana. masalah alat tangkap bagi nelayan sangat menentukan hasil pendapatan dan produktivitas dalam menjalankan pekerjaanya. Alat tangkap sangatlah menentukan status sosial mereka, semakin mewah alat tangkap mereka status sosialnya semakin  tinggi begitu juga sebaliknya. Nelayan tradisional di Desa Wayatim mempunyai jangkauan penangkapan yang tidak begitu jauh, sehingga para nelayan hanya membutuhkan waktu yang sedikit ketika mencari nafkah dan mempunyai hasil  tangkapan yang berbeda dengan nelayan modren.  Untuk itu dapat diketahui bahwa masyarakat nelayan tradisional yang ada di Desa Wayatim dengan memiliki alat tangkap dengan milik sendiri tidak dapat meminjam atau mengkredit tersebut sesuai dengan tabel 4.12 di bawa ini dari hasil penilitian tesebut.
Tabel 4.12 Distribusi Responden Menurut Peralatan Yang Digunakan 
Peralatan Yang Digunakan  
Jumlah
Responden
Persenase  (%)
Milik sendiri
50
100%
pinjaman
0
0%
Kredit 
0
0%
Sumber: Data Penelitian, 2019





Gambar 4.12 Diagram Distribusi Responden Menurut Peralatan Yang Digunakan 

Dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel 4.12 diatas. Bahawa reponden yang beraktivitas sebagai nelayan dapat dilihat juga peralatan yang digunakan oleh responden disaat melakukan aktivitas penangkapan ikan dilaut. Untuk itu dapat diliat di atas bahwa dengan persentase 100% atau seluruh responden yang melakukan aktivitas sebagai nelayan semuanya memiliki alat penangkapan sendiri tidak meminjam dan tidak pula mengkredit alat tangkapan yang mereka gunakan tersebut.
2.      Kurangnya perhatian dari pemerintah
Pemerintah daerah merupakan salah satu pimpinan yang memiliki hak penuh dalam melakukan pemberdayaan tentang bagaiman cara menangkap ikan. Namun hal tersebut pemerintah tidak melakukan kewajibannya terhadap masyarakat nelayan tradisional yaitu Desa Wayatim itu sendiri.
Dalam UU Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial dijelaskan bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun  1945 mengamanatkan negara mempunyai tanggungjawab untuk melindungi  segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraa sosial serta melindungi masyarakat dari risiko-risiko sosial yang mungkin timbul.
Maka dengan itu dalam penyelenggaraan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir atau yang  bermata pencaharian sebagai nelayan, perlunya campur tangan pemerintah,  perlunya evaluasi dan kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan  nelayan.  Berdasarkan peraturan Kementrian Kelautan dan Perikanan nomor  per.15/men/2010 tentang organisasi dan tata kerja kementrian kelautan dan  perikanan, tugas direktorat penegambangan usaha penangkapan ikan dalam  perumusan dan pelaksanaan kebijakan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang usaha penangkapan  ikan.
Berdasarkan apa yang dijelaskan dalam Undang-Undang dan Pancasila bahwa melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraa sosial. Namun hal tertentu berbeda dengan apa yang suda diterapkan. Oleh sebab itu dapat dilihat di bawah ini dengan tabel 4.13 tersebut.
Tabel 4.13 Distribusi Responden Menurut Penyeluhan dari pemerintah
Penyuluahan
Jumlah
Responden
Persentase   (%)
Perna 
0
0%
Tidak pernah 
50
100%
     Sumber: Data Penelitian, 2019




Gambar Diagram 4.13 Distribusi Responden Menurut Penyeluhan dari pemerintah

Masyarakat Desa Wayatim sebagian besar yang berprofesi sebagai nelayan kurang mampuh untuk mendapatkan hasil tangkapan yang banyak. Untuk itu Dari hasil yang diteliti bahwa dengan 100%  atau dari seluruh jumlah responden yang diteliti tidak pernah menerima penyeluhan atau kegiatan tentang usaha penangkapan ikan oleh pemerintah daerah maupun lembaga-lembaga terkait.

3.      Hasil tangkapan
Peningkatan hasil perikanan air laut dipengaruhi oleh alat-alat tangkap yang digunakan, semakin besar kapasitas alat tangkap yang di gunakan maka perolehan ikan semakin banyak, hal inipun disesuaikan dengan ketepatan alat tangkap yang digunakan dengan musim ikan. Alat tangkap ikan masuk kepada penelitian ini karena dalam menghasilkan tangkap perikanan air laut, Alat-alat tangkap merupakan suatu hal yang pokok, alat tangkap bagi nelayan berupa perahu, sampan, peralatan menangkap ikan seperti pukat cincin, pancing dan lain-lain. Namun pada penelitian ini untuk menentukan ukuran dari alat tangkap yang digunakan yaitu untuk memudahkan pengukuran dengan menggunakan biaya pembelian alat tangkap yang digunakan. Hal ini dapat diketahui bahwa hasil tangkapan yang dilakukan oleh responden dilaut dipengaruhi oleh alat tersebut. Untuk itu dapat dilihat pada tabel 4.14 di bawah ini.
Tabel 4.14 Distribusi Responden Menurut Hasil Tangkapan
Hasil Tangkapan
Jumlah
Responden
Persentase  (%)
Kurang dari 5 kg
37
74%
10.s/d 15 kg
13
26%
20 s/d 25 kg
0
0%
Lebih dari 30 kg
0
0%
Sumber: Data Penelitian, 2019



Gambar 4.14 Diagram Distribusi Responden Menurut Hasil Tangkapan 


Beradarkan hasil tangkapan yang dilakukan oleh responden tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dalam setiap individu. Hasil yang didapat dengan persentase 74 % atau 37 responden yang mendapatkan hasil tangkapan tersebut kurang dari 5 kg. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kebutuhan dalam rumah tangga karena disebabkan kurangnya pendapatan dari hasil tangkapan tersebut. Dan diantaranya dengan persentase 26% atau 13 responden yang mendapatkan hasil dengan kurang lebih 10.s/d 15 kg.
4.      Kondisi cuaca
Cuaca adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi responden yang beraktivitas sebagai nelayan tradisional. Desa Wayatim yang terletak dipesisir pantai dengan zona ekonomi laut yang berstrategis sehingga sebagian masyarakat atau responden tesebut mengambil kesempatan untuk melakukan aktivitas sebagai nelayan tradisional. Namun hal tersebut dilihat pada kondisi cuaca di Desa Wayatim sangatlah berpengaru terhadap nelayan tradisional. Dengan alat tangkap serba tradisional sehingga mereka sangat sulit untuk melakukan aktivitas sebagai nelayan karena disebabkan kondisi cuaca yang buruk. Dengan kondisi cuaca yang ada di Desa Wayatim tersebut, oleh sebab itu dapat diketahui dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap responden yang beraktivitas sebagai nelayan.



Tabel 4.15 Distribusi Responden Menurut Pengaruh Cuaca
Pengaruh Cuaca
Jumlah
Responden
Persentase  (%)
Tidak berpengaruh 
0
0%
Kurang berpengaruh
0
0%
Cukup berpengaruh
0
0%
Berpengaruh
50
100%
Sumber: Data Penelitian, 2019





Gambar 4.15 Diagram Distribusi Responden Menurut Pengaruh Cuaca


Dari hasil penelitian di atas dapat di ketahui bahwa perubahan cuaca dapat mempengaruhi aktivitas responden yang melakukan penangkapan ikan disaat melakut. Perubahan cuaca adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi nelayan tradisional. Menurut (Rani Daud, 2019) salah satu responden mengatakan bahwa kondisi cuaca yang sangat buruk disaat turun melaut yaitu turunnya hujan, angin yang bertiup dari timur kebarat dan dari barat ketimur. Hal ini dapat di ketahui bahwa perubahan cuaca sangat berpengaru terhadap nelayan dengan persentase 100% atau seluruh responden berpendapat hal yang sama bahwa cuaca sangat berpengaruh.  Namun hal tersebut tidak ada responden yang melakukan aktivitas sebagai nelayan mengatakan cuaca kurang berpengaru atau tidak berpengaruh terhadap nelayan tersebut dengan persentase 0%

Tabel 4.16 Distribusi Responden Menurut Kondisi Cuaca
Kondisi Cuaca
Jumlah
Responden
Persentase  (%)
Mengetahui  
0
0%
Tidak mengetahui  
50
100%
Sumber: Data Penelitian, 2019





Gambar 4.16 Diagram  Distribusi Responden Menurut Kondisi Cuaca


Dari hasil tabel di atas bahwa kondisi cuaca yang ada di Desa Wayatim merupakn  salah satu kondisi cuaca yang sangat berpengaruh terhadap nelayan tradisional. Hal ini disesbabkan karena sebagian besar responden yang masih memiliki alat nelayan masih tradisional contohnya perahu, pukat, pukat bercincin dan alat pancing yang lain. Untuk itu dilihat pada hasil penelitian yang dilakukan, bahwa seluruh responden tidak mengetahui dengan persentase 100% atau 50 responden tersebut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar